Wednesday, July 9, 2014

Bercinta Dengan Mbak AtiKu Tersayang | GALAUPOKER AGEN JUDI POKER DAN DOMINO ONLINE TERPERCAYA DI INDONESIA

Wednesday, July 9, 2014 1 comments

AGEN JUDI POKER DAN DOMINO ONLINE TERPERCAYA DI INDONESIA

GALAUPOKER AGEN JUDI POKER DAN DOMINO ONLINE TERPERCAYA DI INDONESIA -  Di kesempatan kali ini saya akan berbagi informasi atau artikel mengenai Cerita Dewasa Terbaru dan di artikel sebelum nya saya telah membahas atau membuat postingan tentang Cerita Sex 2013 Terbaru yang bisa sobat baca juga. Untuk kali ini giliran Cerita Dewasa Terbaru Mbak AtiKu Tersayang yang akan saya bahas dan berikan infromasi lengkap nya kepada sobat sekalian yang memang sedang mencari nya.


Untuk melihat informasi mengenai Cerita Dewasa Terbaru Mbak AtiKu Tersayang ini sobat bisa langusng lihat info lengkap nya langsung dibawah ini. Berikut ini Cerita Dewasa Terbaru yang bisa sobat simak atau lihat selengkap nya dibawah ini

Bagi kalian yang belum berumur 20 tahun silahkan kalian baca artikel yang lain karena ini adalah Cerita Dewasa atau istilah lain nya Cerita Seks.

Pertama-tama perkenalkan nama saya Harnowo, berasal dari sebuah kota J di Jawa Tengah. Sekarang ini saya bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta. Adapun kisah ini terjadi kurang lebih 6 tahun yang lalu saat saya masih kuliah tingkat akhir di kota yang sama.

Sebagaimana kebiasaan kota-kota di Jawa Tengah dimana masyarakatnya hidup saling membantu, demikian juga dengan keluarga saya. Sebagai salah seorang yang memiliki kedudukan relatif tinggi di kantor-nya, bapak saya memiliki beberapa anak buah, yang pada saat ada acara-acara keluarga seperti syukuran, arisan, dll datang ke rumah untuk membantu tanpa diminta sekalipun.

Dari beberapa anak buah bapak saya yang sering berkunjung itu ada seseorang yang sering saya perhatikan, sebutlah namanya Mbak Ati yang berusia kurang lebih 8 tahun diatas saya. Orangnya biasa-biasa saja, tidak terlalu cantik bahkan, tetapi menurut saya memiliki sex appeal yang tinggi. Perawakannya, menurut istilah Jawa lencir, artinya badan agak kurus namun tinggi semampai dengan buah dada tidak begitu besar tetapi mengkal. Dari beberapa kedatangan ke rumah saya itulah saya semakin akrab dengan Mbak ati, yang untungnya juga sangat supel untuk bergaul dengan siapa saja, mungkin juga karena saya anak boss-nya.

Sebagai informasi, Mbak Ati berasal dari kota B yang berjarak 50 km dari kota saya, sehingga di kota J itu dia ngekos dan setiap akhir minggu harus bolak-balik untuk menjenguk suami dan anaknya yang terpaksa ditinggal di kota B. Adapun suaminya bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi, dan di kota B suami dan anak Mbak Ati tinggal bersama dengan orang tua Mbak Ati.

Kejadian antara saya dengan Mbak Ati berawal dari kedatangan Mbak Ati bersama salah seorang teman kantornya, yang terus terang saya lupa namanya ke rumah. Hari dan tanggal-nya juga saya lupa, cuma yang saya ingat adalah hari itu adalah selang beberapa hari setelah lebaran. Pada siang itu saya sedang sendirian berada di rumah, dimana saudara-saudara dan orang tua saya sedang bepergian. Maklumlah saat itu saya sedang melakukan penulisan skripsi sehingga banyak waktu di rumah.

"Bapak-Ibu ada Mas" tanya Mbak Ati
"Enggak ada Mbak" jawab saya, sambil menerangkan bahwa kedua orang tua saya sedang pergi semenjak pagi, sehingga mungkin siang ini sudah pulang.
"Apa mau ditunggu?" tawar saya kepada mereka.
Mereka lalu mengangguk setuju dengan asumsi orang tua saya akan pulang +/- 1 jam lagi.

Kemudian mereka masuk dan duduk lesehan di ruang keluarga rumah saya. Sebagai seorang tuan rumah yang baik, saya tinggal mereka sebenatar untuk membuatkan minuman dan menyuguhkan makanan ringan. Setelah itu kami ngobrol ngalor-ngidul sambil nonton TV yang berada di ruangan tsb.

Selang 15 menit kemudian teman Mbak Ati pamit untuk ke belakang sebentar, sehingga tinggallah kami berdua. Sebagai seseorang laki-laki yang udah lama memperhatikan dan ada kesempatan berdua dengan Mbak Ati, saya keluarkanlah segala kenekatan saya. Sampai sekarang saya selalu tersenyum sendiri mengingat hal tsb. Saya dekati Mbak Ati dengan deg-degan.
"Mbak?" tanya saya,
"Apa?" jawab Mbak Ati
terus diam sebentar, setelah itu ..
"Boleh cium enggak?" kata saya tiba-tiba,
saat itu Mbak Ati diam aja, ya udah saya anggap berarti boleh.
Kemudian saya cium pipinya kanan kiri berulang kali.
Mbak Ati cuman berkata "ati-ati kalau kelihatan temen lho, khan gak enak".
Demi kehati-hatian pula saya lalu ke belakang untuk memantau aktivitas temen Mbak Ati. Setelah merasa aman, karena temen itu buang air besar maka saya kembali lagi ke ruang keluarga.
"Aman kok Mbak" terang saya sambil menjelaskan keadaan.

Kemudian saya ciumin lagi pipinya sekali lagi, setelah itu saya tingkatkan mencium bibirnya. Seperti biasa, pertama-tama ada perlawanan dari Mbak Ati mungkin karena kaget. Namun demikian setelah itu bibir dan lidah kami saling berpagutan. Yang saya ingat waktu itu adalah lipstik yang dikenakan Mbak Ati nempel di bibir saya, sehingga saya harus membersihkan dengan kaos saya hahahaha.

Sambil mengungkapkan kekaguman saya akan bentuk tubuhnya yang lencir, tidak lupa tangan saya kemudian menjelajahi buah dadanya dari luar. Ukurannya tidak begitu besar, mungkin 34A, namun masih mengkal. Tidak puas dengan itu, tangan kanan kemudian saya masukkan ke dalam BH-nya sambil memilin-milin putingnya. Karena ini pengalaman pertama, memang rasanya sulit untuk dilukiskan. Pokoknya benar-benar baru memegang sesuatu yang empuk dan kenyal.

Mengingat kami harus berati-hati agar tidak ketahuan teman-nya Mbak Ati, maka saya memutuskan untuk menghentikan serangan. Saya anggap hal tsb. cukup sebagai awalan, yang penting Mbak Ati enggak menolak kalau saya cium dan pegang buah dadanya.

Setelah menunggu selama 1 jam, dimana kedua orang tua saya juga belum kembali, maka Mbak Ati dan temannya memutuskan untuk pulang sambil berpesan agar menyampaikan kepada ortu bahwa mereka berdua tadi telah datang berkunjung.

Selang beberapa waktu setelah kejadian itu, Mbak Ati masih sering berkunjung ke rumah saya untuk sekedar membantu acara keluarga atau kantor, maupun sekedar main-main. Oh iya Mbak Ati memiliki hobi fitnes di sebuah tempat yang berjarak 200 meter dari rumah saya, sehingga setelah selesai sering main ke rumah.

Selang beberapa bulan kemudian baru ada kejadian yang kurang lebih sama dengan kejadian diatas. Hal itu dimulai dengan hampir berakhirnya masa berlaku SIM saya. Mengingat ada saudara Mbak Ati yang bekerja di kepolisian, maka pada saat mengurus perpanjangan SIM, saya meminta bantuan Mbak Ati. Dan Mbak Ati-pun menyetujuinya.

Beberapa urusan yang berkaitan dengan administrasi telah diselesaikan oleh saudara-nya Mbak Ati, dimana saya hanya perlu datang untuk pengambilan foto saja. Karena saya belum kenal dengan saudara-nya itu, saya datang bersama dengan Mbak Ati dengan terlebih dahulu saya jemput dia dengan mobil ke kantornya. Setelah foto, Mbak Ati meminta bantuan saya untuk mengantar dia ke suatu tempat yang lumayan jauh untuk suatu urusan yang penting, mumpung ada mobil katanya. Adapun SIM yang hampir jadi nanti akan diantarkan oleh dia sendiri ke rumah.

"Wah kesempatan lagi nih" pikir saya agak nekat lagi. Kemudian saya ajak ngobrol mengenai kejadian yang telah kami lakukan beberapa bulan sebelumnya. Dia mengatakan enggak apa-apa. Jawaban lain yang saya peroleh malah tidak saya duga, dimana dia mengatakan memiliki beberapa koleksi majalah porno. Tidak saya sia-siakan tawaran itu, kemudian kami ke kos Mbak Ati terlebih dahulu mengambil majalah tsb. Didalam mobil sambil menyetir saya melihat-lihat majalah tsb. Mbak Ati melihat sambil senyum-senyum. Namun karena saya pikir melihat majalah-nya dapat dilakukan di rumah saja, maka sebaiknya saya lebih memanfaatkan kesempatan berdua yang ada.

Sehingga tangan kiri saya mulai saya tempelkan ke paha Mbak Ati. Karena tidak ada penolakan, maka saya teruskan sampai daerah pangkal pahanya. Yang saya inget waktu itu Mbak Ati mengenakan 2 buah celana dalam secara bersamaan. Sehingga serangan saya agak tersendat. Setelah dijelaskan, bahwa dia memakai 2 CD, maka dengan leluasa tangan saya dapat menyentuh daerah kewanitaannya. Selama perjalanan tangan kiri saya banyak berkutat di daerah tsb. sehingga semakin lama semakin basah. Kadang-kadang saya tarik untuk sekedar ganti persneling atau mencium bau daeah kewanitaan. Woow seperti ini ya baunya vagina. Rasanya kayak nano-nano, ramai campur aduk.
Setelah selesai urusannya, Mbak Ati saya antar kembali ke kantornya. Suatu pengalaman baru telah bertambah lagi.

Malam harinya, Mbak Ati datang ke rumah saya mengantarkan SIM yang telah jadi, sesuai dengan janjinya pada siang tadi. Selang beberapa waktu setelah Mbak Ati datang, saya juga tidak mengerti mengapa semua serba kebetulan, kedua orang tua saya akan pergi ke acara kondangan. Sehingga yang ada dirumah tinggal saya, Mbak Ati dan seorang adik saya yang masih kecil. Meneruskan acara siang tadi, setelah orang tua saya pergi, Mbak Ati saya tarik ke dalam kamar saya. Pada saat itu adik saya sedang belajar di kamarnya. Dengan sedikit protes, namun tidak saya hiraukan, kami kemudian berciuman bibir dengan hebat. Teknik tarik menarik lidah diperkenalkan oleh Mbak Ati kepada saya. Rasanya benar-benar sangat mengasyikkan.
Sambil melakukan ciuman lidah, tangan saya bergerilya ke sekitar buah dada yang tiada bosan-bosannya saya pegang dan kemudian juga sekitar daerah selangkangannya.

Selang beberapa menit kemudian, tanpa pernah ada kata-kata yang keluar, saya lepaskan seluruh pakaian yang menempel pada tubuh Mbak Ati. Benar-benar suatu pemandangan yang sangat indah. Yang menjadi perhatian utama saya adalah bentuk vagina-nya. Benar-benar mengejutkan, tanpa ada bulu yang menempel sedikitpun. Waktu saya tanya, dia menjawab semenjak kecil memang tidak tumbuh bulu sedikitpun di daerah vaginanya. Karena penasaran saya teliti detail daerah vagina-nya. Setelah puas baru saya ciumin bagian dalemnya. Mbak Ati cuman merintih-rintih namun tidak bersuara. Baunya benar-benar kayak nano-nano, sulit untuk digambarkan. Saya yakin para pembaca pernah mengalaminya sendiri. Namun untuk memperoleh yang vaginya tanpa bulu sedikitpun, saya pikir itu adalah pengalaman yang langka. Setelah puas menciumi vaginanya, saya meminta Mbak Ati untuk melakukan oral terhahap kemaluan saya. karena itu adalah pengalaman pertama rasanya benar-benar sangat mengasyikkan. Sehingga dalam hitungan menit pertahanan saya jebol. Kejadian yang tidak saya duga adalah Mbak Ati melahap semua air mani saya.

Mengingat karena Mbak Ati belum puas banget, sedangkan saya sudah lemas, maka saya kemudian menciumi lagi daerah vagina Mbak Ati yang sangat antik tsb. Kurang lebih 20 menit saya ciumin dan akhirnya dengan lamat-lamat setelah Mbak Ati mengucapkan "Ahh" saya akhiri oral sex tsb.

Sadar bahwa kami tidak sendirian di rumah, maka untuk sementara kami cukupkan acara pada malam itu sambil saling berbisik untuk melakukan hal-hal yang lebih asyik pada kesempatan lain.


Mungkin cukup sekian dulu untuk artikel Cerita Dewasa Terbaru yang telah saya berikan kepada sobat sekalian pengunjung setia blog ini, dan semoga saja info atau artikel mengenai Cerita Dewasa Terbaru Mbak AtiKu Tersayang ini bisa bermanfaat untuk sobat sekalian yang memang sedang mencari nya. Sekian dan terima kasih sudah berkunjung.
read more

Tuesday, July 8, 2014

Dokterku , Mantanku | CERITA SEKS DEWASA

Tuesday, July 8, 2014 1 comments

AGEN JUDI POKER DAN DOMINO ONLINE

GALAUPOKER AGEN JUDI POKER DAN DOMINO ONLINE TERPERCAYA DI INDONESIA  -  Kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu. Sudah lebih dari 5 tahun usia perkimpoianku dengan Hendra, tapi belum juga menghasilkan momongan, setelah mencari informasi ke teman teman akhirnya aku mendapat rekomendasi dokter kandungan bagus yang berpraktek di kawasan elit Jakarta. :)


Setelah membuat appointment, aku dan suamiku sudah berada di ruang tunggu dokter Andri, pasien yang menunggu sudah banyak, dan ternyata kami mendapat nomer terakhir tepat sebelum ditutup pendaftarannya.
Pukul 21:00 dipanggillah namaku oleh suster, aku masuk ke ruangan dokter Andri sendirian, sementara suamiku harus menunggu di ruang tunggu, konsultasi dilakukan di ruang praktek sendiri.
Betapa terkejut dan shock aku dibuatnya karena tanpa diduga ternyata dokter Andri adalah mantan pacarku dulu sewaktu SMA di sebuah kota kecil di Jawa Timur, kami memang bersahabat karena tiap kali pulang selalu bersamaan karena jalan ke rumahnya melewati rumahku, hingga akhirnya kami berpacaran saat dia kelas 3 menjelang ujian akhir, dia adalah kakak kelasku satu tahun di atas, sebagai jagoan basket tentu banyak teman wanitaku yang mencoba menarik perhatiannya, tapi ternyata pilihan jatuh kepadaku.
Hubungan kami tidak berlangsung lama karena setelah seleai SMA dia harus kuliah di Jakarta sementara aku ternyata sudah dijodohkan orang tuaku dengan seorang Insinyur yang mengerjakan proyek di dekat tempat tinggalku, dan setahun kemudian kimpoilah aku dengan Hendra saat usiaku masih ingin menikmati masa muda dan remajaku.
“Lily !!!” teriak dokter Andri
“Andri !!!” teriakku bersamaan tak kalah terkejutnya.
Ternyata penampilan kami tidak banyak berubah meskipun sudah berpisah lebih dari sepuluh tahun, Andri yang aku kenal masih seperti yang dulu, tapi terlihat lebih dewasa, sehingga tidak ada rasa asing diantara kami.
“Ly, gimana kabarmu selama ini, kemana aja kamu” Tanya Andri
Aku malu karena akulah yang meninggalkan dia untuk kimpoi dengan Hendra, meskipun itu bukan kemauanku dan aku tetap mencintainya sebagai cinta pertamaku.
Aku diam saja dan menunduk malu karena merasa bersalah dan sepertinya dia tahu perasaanku.
“Sudahlah Ly, semuanya sudah berlalu dan kini kita masing masing punya kehidupan sendiri sendiri” kata Andri, terdengar nada kepedihan di perkataannya.
“Oke sekarang apa masalahmu ?” Tanya Andri sudah berganti menjadi dokter Andri.
Kemudian aku menjelaskan permasalahanku yang tak juga kunjung punya anak, malu juga sebenarnya menceritakan ini kepada bekas pacar yang kutinggalkan.
Lalu dia melakukan sedikit Tanya jawab mengenai seputar kehidupan dan sesekali menyerampet ke masalah sex yang cukup sensitive, tapi itu kuanggap sebagai bagian dari tugas dia.
“oke, silahkan berbaring, biar aku periksa” kata dokter Andri
Aku menuruti saja perkataanya, kemudian dokter Andri mulai memeriksa tubuhku, bisa kurasakan tangannya gemetar ketika memeriksa kondisi tubuhku, sepertinya ada rasa nervous pada dokter Andri begitu juga aku, mungkin dia tahu degup jantungku yang berdetak tak normal ketika stetoskop di tempelkan di dadaku. Sepertinya kami berdua merasa canggung.
Dokter Andri memintaku melepas celana dalamku karena dia mau USG, dengan gemetar aku memenuhi permintaanya dan posisi kakiku mekangkang di tempat yang sudah disediakan. Posisi dokter Andri tepat diselangkanganku yang sudah tidak tertutup, aku yakin sekali dia bisa melihat alat kewanitaanku dengan jelas, entah apa yang ada dipikiran dia aku nggak tahu, kemudian dia memasukkan alatnya USG ke vaginaku, dan tampaklah di layar monitor alat itu gambaran rahimku. Setelah melakukan diagnosa, selesailah USG dan dia memintaku kembali duduk tempat duduk semula, lalu menjelaskan diagnosanya terhadap rahimku dan beberapa tindakan yang harus dilakukan.
Selesailah acara konsultasi dengan dokter Andri, aku beranjak dari kursi dan menjabat tangan dokter Andri, aku tak punya kekuatan ketika dokter Andri mencium pipi kananku bahkan ketika ciumannya berpindah kekiripun aku tetap tiada kekuatan untuk menolaknya, bahkan seperti diluar kendaliku, tanganku segera meraih kepala Andri dan kucium bibirnya dan dia memberi respond dengan mengulum bibirku, cukup lama kami berciuman melepas rindu yang sudah lama terpendam dan tak sempat berkembang. Setelah kami tersadar, Andri melepas ciumannya, aku sebenarnya ingin lebih lama lagi bersama dia, napasku sudah memburu tak karuan, tapi dia sudah memanggil suster yang di luar.
“aku ingin kenalan dengan suamimu, kalau kamu nggak keberatan kupanggil dia masuk sekarang” katanya
“Sus, tolong panggil suami Nyonya ini masuk” perinyahnya pada suster.
Aku diam saja mengatur napas ketika susternya masuk. Kemudian Hendra masuk ke ruang konsultasi dan duduk di sebelahku, kuremas tangannya untuk menenangkan diriku sendiri, karena aku tak tahu apa yang dimaui Andri.
“Pak Hendra, sepertinya istri anda perlu pemeriksaan lebih lanjut, kalau anda tidak keberatan aku akan melakukan beberapa test, perlu waktu mungkin sekitar 30 – 45 menit mungkin lebih, atau Senin minggu depan supaya waktunya lebih lama”
Suamiku diam saja lalu melihat ke arahku, aku Cuma menganggukkan kepala karena masih bingung dengan apa maunya dokter Andri.
“baiklah dok, daripada minggu depan antri lagi, sekarang saja dok udah tanggung” jawab suamiku pasrah.
“oke silahkan tunggu diluar ” kata Andri sambil mempersilahkan suamiku keluar.
Begitu pintu ruang konsultasi di tutup, Andri menghampiriku.
“not bad, pantesan kamu mau meninggalkan aku demi dia” katanya sambil tangannya menarikku ke pelukannya, dan kami kembali berdiri berciuman.
Tangannya berpindah ke pantatku dan menyingkap rokku, meremas pantatku yang telanjang karena aku memang belum mengenakan kembali celana dalamku, karena nervous.
Ciuman kami begitu bernafsu, maklum kangen berat, bibir Andri sudah turun ke leherku, tak mau kalah kupeluk dia erat erat saat Andre mengelus dan meraba raba pentatku, nafasku berpacu dengan nafsu.
Antara kesadaran sebagai seorang istri dan rasa kangen serta ingin menebus kesalahan masa lalu saling muncul silih berganti, tapi akhirnya menghilang saat dokter Andri mulai membuka resluiting bajuku dan dipelorotkan ke bawah. Aku kembali memeluknya ketika tinggal bra ungu yang menutupi bagian intim tubuhku. kubuka celananya hingga melorot kebawah dan tanganku langsung menuju ke penisnya yang masih tertutup celana dalam, kurasakan ketegangan dan keras seperti batu, agak malu juga aku telanjang di depan dia tanpa sehelai benangpun menempel di tubuhku, baru kali ini aku dalam posisi seperti ini selain dengan suamiku. Andri langsung menyerbu kedua bukit di dadaku yang masih tertutup bra sutera, diciuminya kedua bukit itu dengan gemas, sesaat kemudian bra-ku tak bertahan lagi di tubuhku.
“kamu ternyata makin montok saja, dan buah dadamu makin indah dan terawat dibanding dulu, makin matang dan lebih sexy” katanya sambil memandangi tubuhku yang sudah telanjang dan langsung membenamkan kepalanya di antara kedua belah bukit di dadaku.
Meskipun pacaran kami tak lama, tapi karena kami sudah berteman sejak lama, maka pada masa pacaran kami sudah pernah saling meraba dan melihat, hanya sebatas itu, paling banter peting.
Andri sudah mendaratkan lidahnya ke puncak bukitku, dia mempermainkan lidahnya di putingku, secara bergantian dari kiri ke kanan dan seterusnya sambil tangannya meremas remas dengan penuh gairah seakan tak ingin kehilangan diriku lagi.
Kurasakan kenikmatan yang tak terkira, gairah sexualku mulai naik, aku hanya bisa menggelinjang, kugigit bibirku karena tidak bisa mendesah dan menjerit dalam kenikmatan, takut ketahuan.
Andri mendudukkanku di meja prakteknya, dengan hati hati disingkirkannya peralatan kerjanya ke kursi samping supaya tak menumbilkan curiga pada suster maupun suamiku yang menunggu di luar. Kakiku dipentangkan lebar seperti saat konsultasi tadi, tapi kali ini kepala Andri langsung menuju ke selangkanganku, dibenamkannya kepalanya diantara kedua pahaku, ternyata Andri mempermainkan vaginaku dengan lidahnya. Kuremas rambutnya sebagai pelambiasan karena aku tidak bisa melampiaskan dengan menjerit atau mendesah seperti biasa kulakukan. Napasku sudah berpacu dengan birahiku, dengan indahnya Andri mempermainkan irama jilatannya di daerah yang benar benar peka, sepertinya dia sangat menguasai peta anatomi daerah erotica vaginaku, dan aku dibuatnya melayang layang menuju puncak kenikmatan, jilatannya sungguh teratur, halus tidak kasar tetapi memberikan kenikmatan yang tiada tara, permainan di daerah klitoris maupun kombinasi permainan lidah dan kocokan jari tangannya terlalu berlebihan kenikmatannya.
Hampir saja aku menjerit kalau saja Andri tidak segera menghentikan permainan lidahnya.
“please Ndri, jangan goda aku, sekarang please” desahku pelan takut terdengar suamiku yang menunggu di luar, entah dia dengar atau tidak.
Mengerti akan permintaanku, Andri mengakhiri permainan lidahnya, dia berdiri didepanku, mengamati aku yang lagi terbakar birahi.
“kamu makin cantik dan mempesona apalagi kalau lagi bernafsu seperti ini” katanya sambil melepas baju dan celananya, tangannya mengatur penisnya ke vaginaku.
Kami kembali berciuman, tanganku memegang penisnya dan mengocoknya.
“sepertinya lebih besar daripada dulu” bisikku sambil meremas remas penisnya.
Dia hanya tersenyum ketika kubimbing penis itu ke vaginaku yang sudah basah, kusapukan sejenak ke bibir vaginaku, ternyata Andri tidak mau menunggu terlalu lama, dia langsung mendorong masuk penisnya ke vaginaku yang sudah basah, gerakannya perlahan tapi makin lama makin masuk ke dalam, hingga semua batang penis Andri terbenam ke vaginaku didiamkannya sejenak.
Ini adalah penis kedua yang menikmati hangatnya vaginaku selain suamiku, karena aku memang tidak pernah berselingkuh dengan laki laki lain. Sebenarnya ukuran penis Andri boleh dibilang sama dengan punya Hendra, tapi karena bentuknya berbeda, maka aku merasakan sensasi yang berbeda antara Andri dan suamiku.
“pelan pelan, ndri” bisikku
“lebih dari sepuluh tahun aku mendambakan saat saat seperti ini” jawabnya sambil memandangku penuh kemesraan.
Andri menarik keluar secara perlahan dan kembali memasukkan secara perlahan pula dan makin lama makin cepat, tapi halus dan tidak liar. Sungguh indah permainan Andri, dengan penuh perasaan dan penuh kenikmatan, dia mengocok vaginaku dengan penisnya tangannya meraba dan meremas buah dadaku.
Aku telentang di meja, diangkatnya kakiku ke pundaknya, tangannya meremas kedua buah dadaku, gerakannya tetap teratur seakan dia menikmati setiap gesekan dan gerakan dari tubuhku, pandangan matanya tak pernah lepas dari mataku sungguh menghanyutkan pandangannya. Dirabanya seluruh tubuhku seolah tak mau terlewatkan sejengkalpun dari jamahannya.
“terlalu lama aku merindukan seperti ini, selama hampir tiga tahun pertama sejak perkimpoianmu aku membayangkan saat seperti ini” katanya tanpa menghentikan gerakannya
“Ndri, please jangan ungkit itu lagi” kataku pelan disela sela kenikmatan
Andri lalu membalikkan tubuhku, kini aku tengkurap di meja kerjanya, dengan perlahan Andri kembali memasukkan vaginaku, kali ini dari belakang. Kembali aku merasakan kenikmatan yang datang silih berganti antara sodokan, elusan dan ciuman di punggung serta remasan di dadaku, aku merasakan bercinta dengan seorang good lover yang romantis, yang tahu kapan saatnya untuk berbuat apa, dia sepertinya tahu persis yang bisa membuatku melambung ke awan kenikmatan birahi, kurasakan kocokan yang penuh kemesraan dan perasaan. Lalu Andri menarik tanganku, kini aku setengah berdiri dengan tanganku dipegangi dari belakang sama Andri, dikocoknya dengan tiada henti, ingin rasanya teriak atau mendesah merasakan kenikmatan ini, tapi suamiku masih menunggu diluar sementara Andri mengaocokku dari belakang makin lama makin keras, iramanya kini berubah liar dan tidak beraturan, meskipun agak kaget dengan perubahan iramanya tapi aku menikmati juga variasi ini.
Kini aku dihadapkan ke di tembok, tanganku tertumpu pada tembok menahan tubuhku, kaki kanankudiangkat Andri dan dia mengocokku dengan keras dan cepat, mungkin suamiku menunggu di balik tembok ini aku tak tahu, tapi aku tahu pasti kalau suamiku masih di luar sana dan aku yakin sekali dia akan segera tahu kalau aku teriak atau mendesah dalam kenikmatan.
Kutengok ke belakang, wajah Andri tersenyum penuh kemenangan, kemenangan karena dia bisa mempermainkan aku sementara aku hanya bisa menahan desah kenikmatan.
“kamu gila Ndri” ucapku pelan dan hanya dibalas senyum dan hentakan di vaginaku. Aku merasakan kenikmatan yang tak bisa kugambarkan, suatu kenikmatan yang bercampur ketegangan suatu petualangan yang nyerempet bahaya tapi benar benar kunikmati.
Tiba tiba pintu kamar di ketok.
“sebentar sus” teriak Andri sedikit panik
“kita masuk tempat periksa, bawa bajumu” perintahnya, dan kami berdua masuk tempat periksa dan menutup gordennya.
Bukannya berhenti, Andri malah kembali mendorongku hingga aku berdiri membungkuk dan bersandarkan kursi, tanpa mempedulikan protesku dia kembali melesakkan penisnya ke vaginaku.
“gila kamu” protesku
“masuk sus” katanya sebagai jawaban sambil terus menyodokku dengan keras, aku hanya menggigit bibirku menahan kenikmatan ini.
“dok, sudah jam sepuluh lebih, kalau dokter tidak memerlukan saya lagi, saya permisi pulang dulu ya” kata suster dari luar gordin
“oke sus, sampai besok, tolong panggilkan Pak Hendra kesini” jawab Andri tanpa menghentikan kocokannya
“apa apaan ini” protesku kembali dengan pelan setelah kudengar pintu ditutup suster
“tenang saja, percayalah aku takkan terjadi apa apa” katanya dan kocokannya makin keras disertai remasan yang kuat pada buah dadaku yang menggantung sesekali diselingi tarikan pada rambutku, kugigit bibirku kuat kuat ketika kudengar pintu kembali dibuka.
“ya dok, sudah selesai ?” kudengar suara suamiku dibalik gordin
“Pak Hendra, mohon tunggu sebentar lagi ya, mungkin 15 menit lagi, sudah hampir selesai koq” jawab Andri tenang, tak setenang kocokannya di vaginaku, aku menggigit jariku menahan desah napasku, tegang dan nikmat bercampur menjadi suatu petualangan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.
Aku bercinta dengan mantan pacarku sementara suamiku hanya terpisah selembar kain gordin diluar sana, aku merasakan ketegangan yang hebat, tapi diluar dugaanku justru menambah erotis dan sensasi dari dalam diriku.
“iya pa, nggak tahu dokter Andri, maunya macam macam nih” jawabku terbawa emosi erotis sambil meremas sandaran kursi menahan desah karena kocokan Andri.
“nggak apa Pak Hendra, ini sudah biasa koq, dari pada nggak kelar” kembali Andri menimpali sambil meremas kedua buah dadaku dengan makin keras, aku hampir menjerit kalau tak ingat suamiku diluar sana, kupelototi dia sebagai protes tapi dia tersenyum saja.
“oke dok, nggak usah terburu buru, diselesaikan saja dok, yang penting hasilnya, ma papa tunggu diluar ya, jangan pikirin aku diluar, ikuti saja kata dokter Andri” jawab suamiku dari balik gordin, lalu kudengar pintu tertutup.
“tuh kan suamimu sendiri bilang nggak usah terburu buru, jangan pikirin dia suruh ikutin kataku ” kata Andri menggoda, kocokannya makin cepat seakan menumpahkan segala rindu dan dendam yang terpendam bertahun tahun.
Kini aku ditelantangkan di tempat tidur pasien, tubuhnya lalu naik di atasku, kini kami telanjang dan kembali berpelukan dan berciuman di ruang prakteknya, untuk kesekian kalinya dia memasukkan penisnya ke vaginaku terus mengocoknya, karena tempat tidur berbunyi ketika digoyang, Andri pindah ke kursi, ditariknya tubuhku kepangkuannya.
Aku segera mengatur posisiku dipangkuannya, sesuai “petunjuk” suamiku untuk mengikuti kata Andri. Kini ganti aku yang mengocok Andri, posisi ini adalah favouritku. Tanpa menunggu lebih lama lagi, segera kugoyang dan kuputar pantatku hingga terasa vaginaku diaduk aduk Andri. Tak mau kalah, Andri meremas buah dadaku dan mengulum kedua putingku dengan sedotan yang kuat, aku tak bisa bertahan lebih lama lagi, maka sampailah ke puncak kenikmatan tertinggi, orgasme pertama yang kualami selain dengan suamiku. Kugigit keras jariku untuk menahan jeritan orgasmeku supaya tak terdengar dari tempat suamiku menunggu.
“udah Ndri, keluarin please” pintaku setelah mengalami orgasme
“kan suamimu bilang nggak usah buru buru” goda Andri
Tak tahan dipermainkan lebih lama, dengan sisa tenaga yang ada, aku goyang makin liar dan cepat, Andri membenamkan kepalanya di antara buah dadaku, sepertinya dia sudah tak tahan lagi, makin keras sedotan di putingku.
“aku mau keluar, di dalam ya Ly” pintanya
“gila kalau hamil gimana” protesku
“berarti terapinya sukses” jawabnya sambil kembali meremas dan menyedot putingku, aku ingin berdiri melepaskan pelukan Andri tapi terlambat ketika kurasakan denyutan dan semprotan yang keras dari penis Andre mengenai sisi dalam vaginaku, terasa begitu keras denyutan itu hingga aku terhanyut dan mengalami orgasme untuk kedua kalinya dengan Andri.
Aku terkulai lemas, kusandarkan kepalaku dipundak Andri, dia membelaiku dengan penuh kasih sayang, terhanyut aku dalam belaiannya dan pangkuannya, tubuh kami menyatu dan kurasakan degup jantung Andri, keringat kami saling menempel menyatu dalam kenikmatan, sesaat aku melupakan kalau suamiku menunggu dengan setia di luar ruangan.
Beberapa saat kemudian kami tersadar dan segera berbenah, kukenakan kembali pakaianku dan merapikan make up di wajahku, setelah dirasa semua sudah aman, Andre memanggil suamiku untuk masuk.
“Pak Hendra, istri anda memang hebat, dia bisa tahan lama dengan kondisi seperti ini” kata dokter Andri sambil melirik ke arahku
Aku hanya senyum senyum saja mendengar perkataannya, tapi tidak dengan suamiku.
“maksud dokter ?”
“ada sedikit kelainan pada rahim istri anda, dengan kondisi seperti ini kalau capek atau kondisi tertekan dia akan sangat kesakitan” jelasnya, kemudian dia menjelaskan dengan bahasa kedokteran yang bagi kami berdua tidak mengerti sama sekali, tapi aku iyakan saja.
“saya akan melakukan therapy dua kali seminggu kalau bisa senin disini dan kamis di tempat praktek saya di rumah supaya bisa lebih lama” jelas Andri sambil melirikku kembali
“saya sudah melakukan terapi awal, sementara ini harap jangan berhubungan dulu selama satu minggu, setelah satu minggu datang lagi ke sini akan saya beri terapi dan obat untuk bisa berhubungan besoknya” lanjut Andri kembali melirikku pertanda dia merencanakan sesuatu.
“saya ikut apa kata dokter saja, mana yang terbaik bagi istriku terbaik pula bagi kami” jawab suamiku
“oke Pak Hendra, bu Hendra, kita sudah sepakat, sampai senin di tempat praktek saya di rumah, harap reservasi dulu senin pagi supaya tidak terlalu lama menunggu” kata Andri sambil menyerahkan kartu namanya ke suamiku.
Selama percakapan ini, kurasakan sperma Andri menetes keluar dari vaginaku, entah berapa banyak yang tertampung di celana dalamku.
Akhirnya kami pergi ketika lonceng pukul 11 malam berbunyi, berarti aku sudah bersama Andri paling tidak selama dua jam, dan lebih dari satu jam melakukan sex dengan dia, Andri mengantar kami hingga pintu, sebelum meningalkan kami, dia masih sempat meremas pantatku.
“jangan lupa senin untuk reservasi dulu” katanya terus menghilang dibalik pintu. Ketika suamiku mengurus pembayaran, aku ke toilet untuk membersihkan sisa sperma Andri yang menetes di pahaku.
“Dokter Andri orangnya masih muda, ganteng lagi, pantesan banyak pasangan muda yang menjadi pasiennya” kata suamiku ketika dalam perjalanan pulang
“cara dia menangani pasien begitu tenang, cool gitu, sehingga kita seperti berhadapan dengan seorang teman bukan seorang dokter” jawabku
“Senin aku antar lagi deh, lebih sore biar tidak terlalu malam dan terapi-nya tidak terburu buru” tambah suamiku tanpa prasangka
Hari Senin setelah reservasi pagi hari, aku ternyata mendapat nomer terakhir lagi, diminta datang pukul 7 malam di tempat praktek Andri.
Tempatnya di lingkungan perumahan yang elit dan asri, suasananya begitu nyaman untuk tempat tinggal, ternyata Andre membuka praktek di paviliun samping rumahnya yang gandeng dengan rumah utama.
Pukul 6:30 malam aku dan suami sudah sampai di tempat praktek, ada 2 pasien yang menunggu di situ, rata rata masih muda, seusia kami.
Setelah menunggu lebih dari satu jam dan tidak ada pasien lainnya lagi, akhirnya suster cantik itu memanggil kami masuk.
Di depan kami berdua Andri begitu berwibawa seperti layaknya seorang dokter.
“bagaimana Pak Hendra, apa anda mengikuti petunjuk saya untuk tidak berhubungan paling tidak hingga Kamis depan ?” Tanya dokter Andri
“ya bagaimana lagi dok, kalau ingin berhasil kita ikutin anjuran dokter saja” jawab suamiku seperti pasrah, sebenarnya nggak tega juga aku melihat expresi wajahnya.
“kali ini mungkin tidak selama yang pertama, paling lama satu jam, Pak Hendra boleh tunggu di sini atau di luar” kata Andri
“saya tunggu di luar, tempatnya sejuk dan asri, boleh saya Tanya dok ?” kata suamiku
“silahkan”
“kenapa suami tidak boleh menemani istri untuk konsultasi”
“banyak alasan, pertama, biar tidak terlalu banyak pasien kalau suaminya tidak setuju, sebagai upaya pembatasan pasien secara halus, kalau nggak gitu bisa tiap hari saya selesai praktek jam 12 malam. Kedua, saya tentu akan merasa canggung bila memeriksa si istri sementara sang suami melototi kerja saya. Ketiga belum saatnya, setelah periksa istri dan ternyata tidak ada masalah maka mungkin masalahnya ada di suami, baru saya akan periksa suaminya, itulah metode pengobatan saya” jawab Andri
“oke dok, aku tunggu di luar saja” kata suamiku langsung keluar meninggalkan aku berdua dengan Andri.
Sepeninggal suamiku, Andri langsung menarikku di pangkuannya, kami berciuman mesra, tangannya langsung meraba ke dadaku diremasnya dengan penuh gairah. Aku mulai mendesis pelan ketika ciumannya sampai di leherku.
“jangan mendesah disini sayang, ntar suamimu dengar” bisiknya, dia sudah berani bilang sayang seperti dulu kala.
“bagaimana dengan suster diluar” tanyaku
“kenapa ” dia tak berani masuk kalau tidak aku panggil”
Tangan Andri dengan terampil membuka resliting di belakang hingga rok-ku langsung melorot ke pingggang, aku sengaja pakai pakaian rok terusan yang simple supaya mudah “dilucuti”, aku membalasnya dengan membuka bajunya dan melemparnya ke meja.
Aku kemudian berdiri, dengan sendirinya rok-ku melorot ke lantai, kini aku hanya mengenakan bra hitam berenda setelan dengan celana dalamku, aku memang berusaha tampil sexy dan menggoda di depan Andri, dan ternyata berhasil, dia memandang dengan seksama ke arahku, menikmati setiap lekuk kemolekan dan keindahan tubuhku.
“kamu sungguh cantik dan sexy” komentarnya, sambil berdiri melepas celananya.
Aku memutar tubuhku seperti layaknya seorang model pakaian dalam, kemudian memulai gerakan erotic seperti penari streaptease, Andri duduk kembali di kursi menikmati tarian erotic-ku sambil meremas remas penisnya yang mulai menonjol dari balik celana dalam biru-nya.
Sesekali kugoda dia dengan menempelkan buah dadaku di wajahnya lalu menariknya kembali. Perlahan kulorotkan kedua tali bra-ku lalu diikuti melepas bra dari tubuhku dan kulemparkan ke wajah Andri, tampaklah buah dada kebanggaanku menggantung indah menantang terpampang di depannya.
Andri menelan ludah, dia berusaha menarikku ke pelukannya tapi aku menghindar menggoda, semakin dia terbakar birahi semakin baik bagiku, aku ingin menggodanya. Sensasi dan rasa erotis di diriku makin naik mengingat bahwa kini aku sedang menari streaptease di depan Andri yang hampir telanjang sementara suamiku menunggu di luar dan istri Andri ada di ruangan sebelah bersama anaknya, sungguh permainan ketegangan yang menggairahkan.
Andri sepertinya makin terbakar birahinya, kini dia sudah melepas celana dalamnya dan meremas remas penis-nya sambil menikmati tarian erotisku.
Celana dalam satu satunya penutup tubuhku masih menempel indah, tapi Andri sepertinya sudah tidak tahan lagi dengan dorongan birahinya, dia lalu berjongkok di depanku, kakiku kananku dinaikkan ke kursi, dari celah celana dalam dia mulai mencium dan menjilati vaginaku yang sudah basah karena begitu terangsang menikmati sensasi ini.
Permainan lidah Andri tak terlalu lama, dia lalu menarik turun celana dalamku hingga kami sama sama telanjang. Andri meneruskan pekerjaannya, jilatan lidahnya menyusuri pangkal paha hingga bibir vaginaku. Klitoris adalah bagian yang paling mendapatkan perhatian khusus dari Andri, cukup lama dia memainkan lidahnya di klitorisku dengan berbagai macam gerakan lidah, entah jurus apa yang dia pakai hingga aku hanya bisa menggigit bibir bawahku menahan desah. Kuremas rambutnya dan kudorong lebih dalam ke vaginaku.
Aku duduk di kursi dokter, kepala Andri kembali menempel di selangkanganku, dia sungguh menikmati permainan ini begitu juga aku, permainan lidahnya sungguh jauh lebih lebih nikmat dibanding dengan suamiku, mungkin dia melakukan dengan menggunakan teori.
Desah tertahan sungguh merupakan siksaan tersendiri bagiku, tapi tidak bagi Andri, dia menikmati siksaanku ini, dia menyukai expresi wajahku ketika menahan desah kenikmatan, apalagi saat orgasme.
Setelah puas menikmati vaginaku, Andri lalu berlutut di depanku dan mengatur posisinya sebelum memasukkan penisnya ke vaginaku. Aku nggak mau melakukan terlalu cepat, kuminta Andri berdiri berganti posisi, dia duduk di kursi, kini aku berlutut di depannya, kuciumi penisnya, dengan gerakan menggoda, kujilati kantung bolanya, kupermainkan lidahku di batang dan ujung kepala penisnya sebelum memasukkan penisnya kemulutku. Akhirnya hampir semua batang penisnya masuk dalam mulutku, dengan sliding aku mulai mempermainkan dia, kini dia mendesah tertahan karena takut ketahuan, baik oleh istrinya maupun suamiku di luar sana.
Sepertinya dia hampir tak tahan, lalu tubuhku dibopongnya menuju kamar sebelah yang sambung ke ruang praktek dia. Kamar itu tidak terlalu luas, dengan ranjang yang cukup besar dan bersih, dindingnya di hiasi cermin seukuran ranjang.
“kamar apaan ini ?” tanyaku masih dalam gendongannya
“untuk pasien kalau perlu periksa sperma, ntar juga kamu akan tahu dan mengalami” jelasnya
“kamu boleh teriak sepuasnya, karena terlalu jauh dan tak akan terdengar oleh suamimu dari ruang tunggu pasien, kamar ini dirancang kedap suara” lanjutnya
“bagaimana dengan istri dan anakmu ?” tanyaku
“ada di dalam mungkin sedang nonton TV sama anakku, dia baru berumur 2 tahun” Andri merebahkuan tubuhku di ranjang, dengan mesra dan penuh gairah dia menciumi kedua buah dadaku sambil menindih tubuhku.
“ssssssshhhhh?”.. aagghhhh” aku sudah berani mendesis meski perlahan sebagai pelampiasan atas kenikmatan yang aku alami.
“Ndri, fuck me please nooooowwwwww” pintaku sambil mengocok penis Andri
Tanpa membuang waktu lebih lama, Andri segera memasukkan penisnya yang sudah sekeras batu ke vaginaku yang sudah basah, dengan tiada kesulitan yang berarti melesaklah penis itu ke vaginaku, masuk semua tanpa tersisa. Meskipun sudah pernah sekali melakukan dengan Andri, masih saja kurasakan perasaan asing di vaginaku, karena bentuknya yang berbeda dengan suamiku.
Kupeluk erat tubuh Andri seolah tubuh kami menyatu dalam panasnya api birahi yang membara, sambil tetap berpelukan dan berciuman, Andri mengocokku dengan penuh perasaan, pantatnya turun naik di atas tubuhku, kunaikkan kakiku menjepit pinggulnya untuk memberikan jalan supaya bisa masuk lebih dalam.
“aaaaagghhhh”.. yaaa?” yesss”. trussss Ndri” desahku mulai agak keras, aku mulai menemukan irama permainanku mengimbangi goyangannya, kami bergulingan di atas ranjang sempit itu, terkadan aku di atas kadang dibawah.
Cukup lama kami dengan posisi ini, tak terasa kedua peluh sudah menetes campur menjadi satu, seperti menyatunya tubuh kami dalam lautan kenikmatan.
Memang asik bercinta dengan Andri, begitu penuh perasaan karena memang diantara kami bukan cuman nafsu yang berperan tapi api cinta masih belum padam sepenuhnya, dan sekaranglah saatnya menuntaskan cinta yang terpendam, bukan berarti aku tidak cinta sama suamiku tetapi rasa cinta dan nafsu kali ini sungguh berbeda.
Kami bercinta layaknya sepasang kekasih yang dilanda kangen berat, apalagi sudah tiga hari tidak berhubungan dengan suamiku. Dengan bebas dan tanpa beban aku bisa mengekspresikan kenikmatanku dalam desahan desahan dan jeritan ringan, apalagi ketika Andri mulai mengocok dengan cepat dan keras hingga ranjang ikut bergoyang keras.
Kuimbangi permainan irama Andri dengan menggerakkan tubuhku melawan gerakan Andri, kujepit tubuhnya dengan kedua kakiku yang mengapit di punggungnya sehingga pantatku ikut terangkat membuat Andri lebih dalam menanamkan penisnya di vaginaku. Kurengkuh sebanyak mungkin kenikmatan dari Andri sebanyak yang bisa dia berikan, Andri mengangkat tubuhnya hingga tertumpu pada lutut, kakiku dipentangkan membuat vaginaku terbuka lebat, kocokan Andri semakin cepat secepat degup jantung kami.
Dengan posisi seperti ini kami bisa saling memandang sambil bercinta, kuamati wajah dan tubuhnya yang bersimpuh peluh kenikmatan, wajah Andri menurutku jauh lebih tampan dibandingkan dulu, lebih matang.
Cukup lama kami bercinta dengan posisi ini, dia lalu telentang di sampingku, tanpa menunggu permintaannya, segera aku jongkok di atas penisnya, perlahan kuturunkan tubuhku sampai semua penis Andri masuk ke vaginaku semua.
Penis Andri terasa menyetuh dinding terdalam dari vaginaku, kunaikkan kembali tubuhku lalu kuturunkan begitu seterusnya hingga aku bisa mengocokkan penisnya ke vaginaku. Andri meraba dan meremas kedua buah dadaku sambil memainkan putingnya, membuat aku bertambah terbakar dalam birahi. Kurobah gerakanku menjadi berputar seperti orang ber hula-hop, vaginaku terasa seperti diaduk aduk penis Andri yang masih keras itu, sambil menggoyang pinggul kuraba dan kupermainkan kantong bolanya sehingga Andri kelojotan merem melek, matanya melotot ke arahku, pancaran kenikmatan kutangkap dari sorot matanya.
Aku melakukan variasi gerakan dengan posisi di atas aku yang pegang peranan, kombinasi antara hula hop lalu maju mundur kemudian naik turun kembali lagi ber hula hop membuat Andri seakan terbang tinggi dalam kenikmatan birahi, begitu juga aku, penis Andri sepertinya menjelajah ke seluruh pelosok ruang vaginaku. Ternyata Andri tak mau kalah, dia ikutan menggoyang pinggulnya melawan gerakanku, semakin cepat aku menurunkan tubuhku semakin cepat pula dia menaikkan pinggulnya hingga vaginaku tersodok dengan kerasnya begitu seterusnya. Tak teringat lagi apa yang dilakukan suamiku di luar ruangan ini yang masih setia menunggu istrinya sedang bercinta dengan mantan pacarnya.
“Ndri, aku mau keluar sayang” kataku tak tahan menghadapi perlawanannya
“jangan dulu sayang, tidak dalam posisi seperti ini” jawabnya sambil mengangkat tubuhnya hingga posisi duduk dan aku dalam pangkuannya.
Goyanganku semakin cepat, Andri sudah membenamkan kepalanya di antara kedua buah dadaku, mulutnya mempermainkan putingku secara bergantian, aku merasakan kenikmatan yang hebat antara kocokan di vagina dan kuluman maupun sedotan di putingku. Gerakanku makin cepat dan tidak beraturan antara hingga tak tertahankan lagi aku mencapai puncak kenikmatan yang indah.
“aaaaaaaaggghhhh?”. yessss?” yessss?” yessssssss” desahku dalam orgasme sambil meremas rambut Andri yang masih larut dalam keindahan permainan kami, sedotan di putingku makin kencang ketika orgasme kudapatkan hingga menambah kenikmatan yang tiada terbayangkan sebelumnya, tak lama kemudian maka lemaslah aku dalam pangkuannya. Andri membelaiku dengan mesra, meski aku tahu dia belum mengalami orgasme, tapi dia tetap tenang, aku masih dalam pangkuannya, dielusnya punggungku sementara kepalaku sudah terkulai di pundaknya.
Penis Andri di vaginaku masih menegang, aku merasa kasihan juga, tapi badanku lemes sehabis orgasme setelah tiga hari tanpa sex. Dia menyuruhku berbaring di sebelahnya, kemudian digulingkannya tubuhku hingga aku tengkurap, lalu Andri naik di atasku, dipeluknya aku dari atas lalu dia bergeser di antara kakiku yang dipentangkan. Ditariknya pantatku sedikit ke atas hingga aku agak nungging, kembali dia melesakkan penisnya ke vaginaku dan dengan cepatnya mulai mengocok.
Tangannya mengelus punggungku lalu tubuhnya tengkurap di atas tubuhku, dia mengocokku dari belakang dengan posisi seperti ini, belum pernah aku melakukan sebelumnya dengan suamiku, ini pengalaman pertamaku, gairahku mulai naik kembali merasakan sensasi kenikmatan yang baru, tapi dengan posisi seperti ini aku tidak bisa melakukan apa apa kecuali hanya pasrah menerima kenikmatan yang dia berikan. Menyadari kepasrahanku, Andri makin menjadi jadi mengocokku, dihentakkannya pinggangnya ke arah pantatku hingga penisnya menghantam dinding vaginaku dengan kerasnya sambil dia menciumi tengkuk, pungak dan telingaku, yang kadang kadang dikulumnya.
“aaaaauuugghhhhh?”eeeehhhhhh?”..emmmmhhhh” hanya desah itulah yang bisa kulakukan. Entah gaya apa yang dimainkan ini, yang jelas bukan doggie, mungkin gaya kura-kura kali, tapi who cares, yang penting aku mendapatkan pelajaran dan kenikmatan baru dari dia.
Tak lama kemudian kurasakan denyutan keras dari penis Andri menghantam dinding vaginaku dengan kerasnya, semprotan demi semprotan kunikmati dengan perasaan yang lain, begitu kerasnya denyutan itu hingga mengantarku mencapai orgasme yang kedua kalinya hingga kali ini aku benar benar lemas tak bertenaga. Andri terkulai diatas punggungku setelah menyemprotkan spermanya di vaginaku, kemudian dia berguling berbaring di sebelahku.
“Ternyata kamu lebih hebat dari yang aku bayangkan selama ini” komentarnya setelah selesai menyetubuhiku lebih setengah jam.
“Tak kusangka bercinta dengan kamu bisa senikmat ini” lanjutnya.
“Kamu orang kedua setelah suamiku, dan aku benar benar menikmati saat saat seperti ini” jawabku
“beruntunglah aku” Andri menimpali sambil tangannya mengelus punggungku
“aku juga beruntung bisa mendapat kesempatan seperti ini, bisa merasakan dua penis yang berbeda dengan permainan yang berbeda pula” kataku sambil meremas penisnya yang mulai melemas.
“kenapa tidak kamu bandingkan saja perbedaannya sekarang, percaya deh sensasinya pasti berbeda?”
“maksudmu ?” kataku nggak ngerti
“sekarang kamu main dengan suamimu disini, kalau mau, aku yang akan mengatur, serahkan padaku” usulnya
“kamu gila Ndri, setelah aku dengan kamu, lalu kamu minta aku dengan suamiku, mana aku bisa aku lakukanitu, lagian aku juga sudah capek”
“yang penting kamu mau nggak “, soal lainnya serahkan aku, percaya deh pasti kamu akan berterima kasih setelah ini” jelas Andri meyakinkanku.
Timbul rasa ingin mencoba, tapi ragu ragu juga, kupikir kembali untung ruginya, sepertinya untung saja nggak ada ruginya bagiku. Aku terdiam karena malu untuk menjawab.
“oke kamu berpakaian seperti biasa, kupanggil suamimu masuk, trust me” katanya lalu kami berpakaian seperti layaknya.
“baik, tapi beri aku waktu sebentar untuk memulihkan tenagaku” pintaku.
Setelah beristirahat sebentar, kami kembali ke ruang prakteknya dan dia memanggil suster untuk mempersilahkan suamiku masuk. “Pak Hendra, saya sudah memeriksa anatomi tubuh istri anda, hasilnya dalam beberapa hari lagi, sekarang saya ingin melihat bagaimana pengaruh sperma anda pada bu Hendra” kata Andri ketika aku dan suamiku menghadapnya sebagai seorang dokter.
“maksud dokter” kata suamiku nggak ngerti
“saya ingin anda berhubungan, sekarang, di sini, setelah itu saya periksa lagi kondisi rahim istri anda setelah berhubungan” jelasnya lagi
“sekarang ” di sini dok ?” suamiku bengong
“ya sekarang, tentu saja tidak disini, maksud saya di kamar sebelah, jangan kuatir pak, nanti anda akan tahu sendiri, oke aku siapkan dulu” katanya lalu dia beranjak dari kursinya dan menuju ke kamar sebelah, mungkin merapikan sprei yang acak acakan habis kami pakai tadi.
“silahkan, santai saja, jangan tegang, kalau ada masalah di dalam ada intercom yang bisa menghubungi saya” katanya setelah keluar dari kamar sebelah sambil mempersilahkan kami masuk.
Untuk kedua kalinya kumasuki kamar itu, tapi kali ini dengan orang lain, yaitu suamiku sendiri, ternyata ranjang sudah rapi.
Agak canggung juga suamiku memulainya, maka aku ambil inisiatif, tanpa membuka baju kulepas celana dalamku, ternyata sperma Andri banyak tumpah di situ maka aku ke toilet untuk membersihkan vaginaku dari sperma Andri, aku nggak mau suamiku curiga pada cairan di vaginaku. Kulihat dia ragu ragu melepas celananya, aku langsung berlutut di depannya dan langsung ku kulum penisnya untuk membangkitkan gairah sexualnya.
Andri benar, kurasakan sensasi yang berbeda dibandingkan tadi. Tidak terlalu lama membuat penis suamiku menegang karena sudah tiga hari kami tidak bercinta. Kurebahkan suamiku di ranjang lalu kuteruskan mengulum penisnya, ingin rasanya kumasukkan langsung ke vaginaku untuk merasakan perbedaan kenikmatan yang dijanjikan Andri. Tapi tiba tiba pintu diketuk dari luar, kami kaget sesaat, karena posisiku di atas dan aku masih memakai pakaian meski tanpa celana dalam, maka aku buka pintunya, ternyata dokter Andri.
“maaf mengganggu, aku lupa pesan kalau bu Hendra harus di bawah, jangan di atas” kata dokter Andri dengan sorot mata yang nakal, kembali kututup pintu kamar sambil ngedumel, sialan, batinku.
Tanpa melepas bajuku karena khawatir ketahuan ada bau badan lain yang masih menempel di tubuhku, aku langsung berbaring di sebelah suamiku, kami berciuman sebentar lalu suamiku mengatur posisinya di antara kakiku, kupegang penisnya dan kubimbing ke vaginaku setelah menyingkapkan rok ku hingga ke perut, kuusap usapkan di bibir vagina hingga kembali menegang, lalu didorongnya perlahan hingga masuk secara pelan pelan sampai semua tertanam di dalam, dia diam sebentar. Sekali lagi Andri benar, aku merasakan kenikmatan yang berbeda saat penisnya mulai mengocok vaginaku. Meski irama kocokannya tak seindah Andri, tapi kenikmatan yang kuperoleh boleh dibilang setara, tiap irama kocokan maupun bentuk penis mempunyai kenikmatan yang berbeda, baru sekarang aku bisa bilang seperti itu, tak pernah aku membayangkan menikmati sensasi seperti ini.
Kunaikkan kakiku ke pundaknya supaya suamiku bisa mengocok lebih dalam, aku tidak berani menjerit takut ketahuan, suamiku meremas buah dadaku dari luar sambil mengocok dengan keras. Karena sudah tiga hari tidak berhubungan, maka tidak sampai sepuluh menit suamiku sudah orgasme, dia menyemprotkan spermanya di vaginaku dengan kerasnya seakan memenuhi vaginaku, jauh lebih banyak dari punya Andri tadi, denyutannya begitu keras tapi tak bisa membuatku orgasme dalam waktu sesingkat itu. Setelah tidak ada lagi semprotannya, suamiku terkulai di atas tubuhku, kembali aku merasakan aroma tubuh yang berbeda di antara keduanya, kuelus punggungnya dan dia mencium keningku, lalu kami berbenah diri kemudian keluar kamar, tak kudapati dokter Andri di situ.
Kamipun menunggu di ruangannya, tak lama kemudian dia muncul.
“Oke tolong ibu kembali ke kamar tadi aku perlu berbincang dengan Pak Hendra dulu sebelum memeriksa Ibu” kata Andri sambil mempersilahkan aku kembali ke kamar.
Entah apa yang dibicarakan kedua laki laki itu di luar karena aku harus masuk kamar itu untuk ketiga kalinya, entah kali ini dengan yang mana lagi.
Sambil menunggu orang berikutnya yang masuk kamar, aku merenung tentang apa yang barusan terjadi, dalam tempo kurang dari 2 jam, aku sudah bercinta dengan dua orang yang aku cintai secara berurutan, suatu pengalaman yang tak akan terlupakan meskipun yang terakhir dengan suamiku tak sempat mengalami orgasme, sebenarnya ingin melanjutkan lagi untuk menuntaskan berahi yang tak tertuntaskan.
Aku sempat melamun kalau seandainya bercinta dengan mereka berdua sekaligus, seperti yang pernah aku lihat di film biru betapa indah dan nikmatnya, tapi segera kutepis khayalan itu karena suamiku sudah pasti akan keberatan kalau harus berbagi istri dengan orang lain. Ternyata orang berikutnya yang masuk seperti dugaanku adalah Andri.
“gimana Ly, kamu harus berterima kasih atau mengumpatku ?” tanyanya menggoda
“tak kusangka begitu nikmat, begitu erotis” kataku sambil memeluknya pertanda terima kasih.
“kalau melihat begitu cepat, pasti kamu belum orgasme” tanyanya berlagak bodoh
Tanpa menjawab dan tanpa malu malu aku langsung membelakangi Andri membungkukkan badan dan menyingkapkan rok-ku hingga tampaklah pantatku yang putih mulus.
“beri aku sekali lagi Ndri agar tuntas” pintaku.
Dengan segera dia membuka resliting celananya dan tanpa melepas celana dikeluarkannya penisnya yang sudah menegang kembali. Pinggangku dipegangnya dan dengan sekali dorong untuk kedua kalinya aku menikmati penisnya hari itu. Kali ini aku tak berani teriak karena tak tahu dimana posisi suamiku, terdengar kecipuk cairan sperma suamiku yang masih di vaginaku ketika Andri mengocokku, tapi sepertinya dia tidak peduli. Kembali kurasakan perbedaan sensasi dan kenikmatan dari Andri dan suamiku, karena memang birahiku sudah tinggi, tak lama kemudian akupun mendapatkan orgasme untuk kesekian kalinya dari Andri, tanpa dia mengalami orgasme lalu Andri memasukkan kembali penisnya ke celananya.
“Aku sudah memeriksa alat reproduksi suamimu, penisnya gede juga sih pasti kamu puas dengan punya suamimu, Cuma karena agak membengkok ke kiri mungkin sedikit berpengaruh pada semprotannya dan karena gede dan panjang aku perkirakan berpengaruh pada rahimmu ketika dia mengocok dengan keras” katanya setelah merapikan celananya.
Kamipun kembali ke ruang praktek, suamiku menunggu di sana, setelah memberi obat penyubur dan obat lainnya kamipun berpamitan pulang ketika jam sudah menunjukkan 10 malam.
Pengobatan kami berlanjut terus setiap Senin Kamis dengan cara “therapy” yang sama, yaitu gantian antara suamiku dan Andri sambil dia melakukan therapy yang sebenarnya pada kami dan suamiku.
Lebih dari setahun kami melakukan konsultasi dengan dokter Andri ketika akhirnya kami memutuskan untuk beralih ke dokter lain karena tidak ada tanda-tanda kehamilan.
Antara kecewa dan bersukur karena kalau sampai hamil aku tentu bingung siapakah ayah dari anakku, suamiku atau Andri. Meski begitu aku masih berhubungan dengan Andri diluar praktek dia sebagai pelampiasan cinta yang terputus.
Itulah awal bagaimana aku akhirnya berpetualang dengan banyak laki laki dan pada akhirnya suamiku juga terbawa petualanganku untuk melakukan hubungan sex secara terbuka maupun beramai ramai.


read more

Wednesday, July 2, 2014

Bercinta Dengan SPG Swalayan Yang Cantik | CERITA SEKS DEWASA

Wednesday, July 2, 2014 1 comments

CERITA SEKS DEWASA TERBARU

Cerita Seks Dewasa - Perkenalkan nama ku Andy. Aku pernah bekerja di salah satu swalayan terkemuka di kota M selama lbh kurang 7 taon. Awal-nya penempatan aku hanya di bag receiving barang. Dari sana kemudian beranjak ke posisi yg lbh lumayan…. nach,1/2 taon di receiving,aku dipindahkan ke lapangan,dlm arti di tmpatkan di store. Disinilah awal perjalanan cinta-ku dgn mahkluk yg namanya SPG. Terus terang aku sangat menyukai posisi ini berhubung setiap harinya aku bisa menikmati setiap kecantikan SPG yg bertugas di swalayan ini. Singkat cerita,dari sekian byk-nya SPG yg bertugas,aku sangat tertarik dgn SPG product susu,namanya Sari. Sari berwajah bukan hanya cantik,tp body-nya jg yahud bngt… Umurnya 19 taon. Dgn tinggi 165,bra 34B,ditambah dgn jenjang kakinya yg putih mulus bngt,maka komplit lah sudah Sari yg perfect bngt menurut versi-ku. Aku mencoba mendekatkan diri dgn-nya,setiap hari selalu aja rapat hingga kedekatan kami semakin nyata. Tp berhubung lokasinya di swalayan,aku jg hrs menjaga image agar issue-nya tdk sampai ke telinga atasanku. Sering pd jam2 makan aku memberinya cemilan ato makanan tambahan yg rada2 ena dimakan,dan dari sikapku itulah,timbul rasa simpati sari terhadapku. Jumat sore itu,ku dekatin sari seraya berkata”say,pulang nanti ku antar ya….” Dan Sari pun mengganguk setuju.

Bayangkan,rasanya sudah ga sabaran menanti jam2 pulang kerja krn di otak-ku sdh tersusun beberapa rencana mantap,he..he…

Ga tau np belakangan ini selalu membayangkan mulusnya tubuh Sari,ga tahan pengen bngt menikmatinya…

Jam yg ditunggu pun akhirnya tiba,bergegas aku turun ke basement bwh mengambil mtr kesayanganku. Kutunggu Sari di pinggir jalan pas pintu keluar dari mall. Ga lama ku liat Sari keluar bareng tmn-nya 3 org,dan bgt meliatku,dia pamitan duluan ama tmn-nya di barengi canda tmn2nya yg usilin sari. Kuberikan helm dan Sari segera melompat duduk di sadel belakang sambil berpegangan pinggangku. “Say,kita langsung pulang ato mo jalan2 duku sambil cari makan?” kataku kenceng. Itu sech hy pura2ku aja pdhal uda byk rencana di otkku ini,hehhee… Ternyata jawaban Sari bertepatan dgn keinginanku,”kita jalan2 aja dulu baru ntar mlm-an makannya ya”. Aroma wangi di tubuhnya serasa menimbulkan nafsuku,sehingga makin kupacu mtr-ku semakin kencang. Sari memeluk ketau pinggangku sehingga menempellah buah dadanya yg kenceng padat di belakang punggungku. Celanaku makin sesak kejepit pula,hehheeeee….

Sengaja aku membawanya jalan aga ke pinggiran kota,biar segala rencanku rampung. Setelah puas keliling,akhirnya sampailah kami di rumah makan yg bernuansa klasik dimana rumah makan tsbt mempunyai alun2 seperti pondok pribadi,jadi apa yg akan kulakuin nanti lbh privacy dan tertutup dr pandangan org krn pondoknya memang bersekat.

“kamu pesan apa say?” kataku mesra. “sari pesan pecel lele aja bang”. Aku pun segera memesan pd pelayannya… Apa aja yg mau ditambah kutambahkan aja sayuran laen biar banyakan,krn setelah makan nanti,aku jg mau makan lg,tp tentu makan menu yg ISTIMEWA nantinya,ha..ha…

Karena sudah laper bngt,kami makan dgn lahapnya sambil sekali kali kusuap nasi ke mulut sari. Awal-nya dia keliatan malu,tp akhirnya dia tertawa geli.

Selesai makan kami duduk ngobrol dan perlahan tp pasti arah bicaraku memancing ke arah sex sambil tanganku merangkulnya…

Perlahan kucium bibirnya,hmmm…lidahku menjelajah ke dalam dan melilit lidahnya. Sari membalas dgn panasnya,shg penisku makin mencuat rasanya… akhhh….sari mendesis nikmat. Semakin kuberanikan diri dgn memasukkan tanganku ke dlm bilik baju seragam-nya dan kuraba payudaranya yg padat sekal. Sari merintih nikmat merasakan belaianku pd payudaranya. Kusingkapkan BH-nya dan perlahan memelintir putingnya,ssshh…sari makin merintih. Aku semakin ga tahan,ku keluarkan

penisku yg sudah mengacung tegak dgn diameter 4 panjang kbh kurang 17cm. Sari terkejut sekali ketika melihat penisku yg mengacung tegak itu. “Ihh,gede bngt py abang,takut sari bang” :sari blm pernah iat yg bgt-an bang” kata sari. Gpp koq say,biasa aja lg,hehhe…aku menjawab sekenanya.

Kembali kuransang sari dgn ciumanku,perlahan ke telinga dan turun ke leher. Ku kecup pelan penuh perasaan dan sari semakin mendesah. “akhhh..bang” sstttttt,ouugghh….” Sari semakin ga tahan. Perlahan kuraba pahanya yg terbuka dan segera jariku mendarat di ujung selangkanganya. CD-nya msh blm kuturunkan,cuma jariku hanya mengesek belahan vag-nya. Sari mendesis lirih membuat aku semakin bergairah.. Ada lendir basah mengalir merembes keluar… Sari semakin ga tahan sehingga tangannya menggengam penisku dan mengocok ngocok kanya. Tiba2 kuhentikan serangan ku sehingga membuat sari terpana heran,nafsunya yg uda di ubun2 terhenti seketika.. “ada apa bang?” Aku menjawab”bntr ya say,jgn disini,bahaya tuch,hehe.e..” Sari baru tersadar kalo kami masih di pondok rumah makan. “kita pulang aja ya bang,sari takut kemalaman dan jujur sari blm pernah melaukan yg seprt td.sari takut bang”. “ok dech,kita pulang aja ya say”kataku membisik di telinganya”. Dalam hati aku merasa tanggung nech,dan ku teruskan rencanaku. Kami merapikan pakaian kami masing2 dan berjalan keluar….

Setelah menghidupkan mtr-ku,kami melanjutkan perjalanan pulang,dan jam sudah menunjukkan pukul 21,20. Di tengah perjalanan,aku berpura2 sakit perut. “aduh say,sakit bngt perutku hbs makan td,aduh,ini sept-nya ga bisa lg bw mtr”,sari kebingungan melihat sikapku yg menahan sakit,pghal hy pura2 saja,hehhehehe…”kita cari tmp istirahat bntr ya say,abang ga tahan lg sakit bngt perutnya”,sari berkata ” ya udalah bang,kita cari tmp istirahat dulu,ntar ga sakit g baru jalan. Aku bersorak girang dalam hati siasatku berhasil ternyata. Ku pacu mtr-ku ke arah motel yg ga jauh lg lokasinya dan segera mengambil kamar. Kita istirahat bngt ya say,gpp,jgn kuatir,ntar ga sakit lg kita segera jalan ya say..”sari hanya menganguk pelan uatir dgn sakit ku.

Di dlm kamar aku segera merebahkan badan di tmp tdr sambil berpura2 merintih memegang perutku,dan sari semakin kuatir aja rasanya meliahat keadaanku. Kupanggil sari mendekat dan kuminta dia mengelus elus perutku supaya aga reda sakitnya,dan sari menurutinya…ena bngt pijitan sari,shingga mataku merem melek jadinya,hahhaa…

Tiba2 aku bangkit dan merangkul sari. Sari terkejut sekali dan langsung ku dekap tubuhnya sambil ku cium bibirnya…Sari gelagapan sambil membaas jg dan perlahan kembali kurangsang dan kucumbu abiz2an.

Kubuka kancing baju sari bagian atas dan kubelai dadanya segera. Ku cium perlahan putingnya dan skali x kusedot. sshhh….sari mendesah nikmat.

tanpa sadar kubuka seluruh pakaianya dan CD-nya sambil trs ku jilat lembut dadanya. Ku buka lebar kakinya mengangkang dan pelan2 ku elus lembut. Mq-nya uda basah bngt,licin lagi. aku berkata kepadanya abg suka bau Mq-nya sari...
perlahan tapi pasti aku pun mengeluarkan Penis ku yang lumayan besar, den menyodor ke arah mulut nya..
dia malu-malu tapi mau menghisap penisku, dengan nikamt yang tak terhingga aku pun mengatakan kepadanya kamu sangat luar biasa sari..aahhh....
sudah puas dengan kuluman bibir nya aku pun mengelus Mq nya yang begitu putih mulus dengan bulu yang jarang-jarang..dan perlahan aku masukan penis ku ke Mq nya..
dia berkata sakitttttt banggggggg...dengan penuh kasihan aku pun menggoyang pelan-pelan dulu.. sudah masuk separuh penisku baru dia tidak merasa sakit lagi.. dan dengan gairah yang sangat besar aku menggoyang pinggang ku ke memek nya yang begitu tebal dan mulus..
ahhh..ahh...ohh desah si sari pas aku menggoyang begitu cepat nya..pinggang ku..
10 menit telah berlau aku pun mengeluarkan sperma yang begitu kental keatas pepek sari tepat nya dibulu atas pepek nya..


read more

 
Copyright © 2009 Cerita Seks Dewasa | Cerita Hot | Cerita Panas | Cerita Dewasa | Foto Hot
Designed by Dody Farial and XML Coded by Blog Zone