Wednesday, August 13, 2014

Perkosa Gadis Cantik Dan Mulus | Cerita Seks Dewasa

Wednesday, August 13, 2014 2 comments


Cerita Seks Dewasa - Nurul adalah seorang gadis cantik yang sangat terkenal di kota Surabaya,ia tercatat sebagai mahasiswi angkatan 2003 di jurusan ekonomi universitas swasta yang terkenal. Ia benar-benar cantik dibalik jilbabnya, kulitnya yang putih mulus dan dandanannya yang selalu tertutup membuatnya tampak anggun. Banyak sekali sebenarnya lelaki yang naksir kepadanya, hanya saja jarang yang berani maju mendekatinya. Maklum saja selain ia berjilbab, ia juga cantik dan pintar.
Suatu hari,

orang tua Nurul pergi ke luar kota, Sehingga saat itu, ia hanya sendirian di rumahnya yang besar. Iahanya ditemani oleh 2 orang pembantunya. Ketiga saudaranya kebetulan juga sedang pergi.Hari telah malam, Nurul masih membuka-buka buku kuliahnya. Ketika Nurul sedang asyik membaca, ia mendengar bel berbunyi, tetapi ia tidak mempedulikannya

“Hmm, siapa ya malam-malam?
Ah mungkin si Dede pulang, biar saja pembantu yang membukakan..
”pikir Nurul dalam hati.

Tidak lama kemudian Nurul terkejut mendengar suara ribut-ribut di ruang tengah seperti ada orang yang sedang berkelahi.

Ia segera beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas keluar dari kamar untuk melihat apa yang terjadi. Alangkah kagetnya Nurul saat ia membuka pintu kamarnya, ia melihat segerombolan lelaki tak dikenal sedang mengobrak-abrik ruangan tengah rumahnya sembari berteriak-teriak, mereka semua terlihat membawa samurai panjang yang terhunus.

Melihat itu Nurul mencoba masuk kembali kedalam kamarnya, tetapi terlambat seorang rampok segera menangkap Nurul dan membekapnya dari belakang

“Mau kemana Kamu!Jangan macam-macam ya!!Nanti saya bunuh kamu…!!!”

Bentak rampok itu. Nurul mencoba meronta dan berteriak minta tolong

“Tolooong…toolooong…garooong..garooo..”
Ternikmat.com PLAAAKK!! Tiba-tiba belum selesai ia berteriak, sebuah tamparan keras mendarat dipipinya yang mulus.

“DIAM KAMU!!

Atau saya gorok leher kamu!”
Mendengar itu Nurul terdiam ketakutan.

Rampok itu segera mengikat tangan Nurul dengan seutas tali dan didudukannya Nurul dilantai dekat kamarnya. Para rampok itu segera sibuk menjarah segala yang berharga di rumah tersebut, mereka masuk kedalam kamar orang tuanya dan menjarah Handphone, jam tangan , perhiasan, dan sejumlah uang. Setelah beberapa saat, seorang rampok berteriak,

“Mana harta yang laen? koq Cuma segini, masak rumah sebesar ini duitnya Cuma secuil??
Hei Non,mana uang yang laen?”
Nampaknya mereka tidak puas dengan hasil jarahannya.

“…Tidak tahu pak…tidak ada uang lagi…Cuma segitu..” jawabnya.

“Yang benar saja kamu!!bohong ya!!jawab yang benar,mana uang kamu!!”

 Bentak seorang rampok tidak puas akan jawaban nurul.

“Benar paak…tidak ada…orang tua saya lagi pergi..cuman ada segitu..”

 Rampok itu menghampiri Nurul dan berjongkok didekatnya.

” Jadi ga ada uang lagi?
  cuman ada segini?”
Tanya rampok itu. Nurul hanya mengangguk pelan.

“Teman-teman, denger!katanya cuman ada segini uangnya…dikit banget..percuma nih kita cape-cape cuman dapat secuil..”

Temannya menyahutinya dengan jawaban-jawaban kasar,penuh makian. “Tapi ngga’ papa, supaya ga rugi, gimana kalo kita ganti dengan anak gadisnya ini? Kayaknya boleh juga nih…”kata rampok tersebut sembari memandangi Nurul yang ketakutan,”anak berjilbab pasti enak.” Semua teman-temannya yang berjumlah 7 orang berteriak setuju.

Mendengar itu,rampok tadi tersenyum dan berkata kepada nurul,

” Ya udah kalo gitu non, terpaksa non ganti rugi ke kita pake tubuh Non…”

ujarnya sambil tersenyum dan membelai wajah gadis berjilbab yang cantik itu. Dipandanginya sebentar Nurul yang gemetaran ketakutan.

“ Tapi kamu emang cantik..gua terangsang juga nih.Ngeliat wajah alim lu yang pake jilbab..”
 
Rampok itu mulai menggerayangi dada Nurul yang tertutup jilbab itu. Nurul mencoba melawan dan meronta

“Jangan pak…jangan…ampunn..jangan..aduuh..jangaaaaan paaak… ampuunnn…jangan perkosa saya..ampuun..!!!”tangis Nurul.

Mereka hanya tertawa mendengar tangisan Nurul dan membuat mereka semakin bernafsu. Rampok yang tadi terus menggerayangi payudara Nurul yang montok dan empuk yang tertutup jubah jilbab itu dengan kedua tangannya.Dengan penuh nafsu, ia meremas-remas susu yang tersimpan dibalik jubahnya selama 3 menit, lalu ia mencoba menyingkapkan bawahan jubah Nurul , sehingga terlihat paha mulus Nurul dilapisi stocking.

Perampok itu ternganga ternyata paha gadis berjilbab ini sangat padat dibungkus stocking.

“ Gue ngaceng nih..”

bisik salah seorang perampok. Rampok itu mengelus perlahan paha indah yang dibalut kaus kaki seperti stocking tersebut . kemudian ia membopong Nurul dan membawanya ke kamar ,lalu direbahkannya gadis malang itu di ranjang. Rampok yang lain pun turut serta masuk ke kamar,nampaknya mereka akan berpesta pora dengan tubuh seorang gadis cantik berjilbab. Seorang rampok yang berdiri di pinggir ranjang mulai membuka bajunya, terlihat tubuhnya yang berkulit hitam legam penuh dengan tato.

Nampaknya ia adalah ketua gerombolan perampok ini. Kemudian ia perlahan naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya diatas tubuh Nurul yang tergolek tidak berdaya. Jilbabnya yang tersingkap sampai paha membuat perampok-perampok itu meneguk ludah.

Rampok itu mulai memeluk dan menciumi wajah Nurul Tercium olehnya wangi tubuh Nurul yang segar dan sungguh membuat nafsu bergejolak. Rampok tersebut semakin cepat mencumbu Nurul sembari tangannya terus menggerayangi dada dan selangkangan Nurul.

Tidak lama kemudian, rampok itu tidak sabar lagi, dirobeknya jubah itu. BREEEEKK… ia sungguh-sungguh terpesona dengan pemandangan di depan matanya, Nurul ternyata tidak mengenakan BH, terlihat sepasang payudara indah milik seorang gadis alim yang cantik menjulang tinggi lengkap dengan pentilnya yang berwarna coklat muda.

Nurul hanya mengenakan CD G-string putih, sehingga sepertinya celana dalam itu hanya menutupi vaginanya dan pantatnya dibiarkan bebas terbuka, sungguh membuat semua rampok itu menelan air liur ingin mencoba tubuh gadis berjilbab itu.Kembali rampok itu beraksi, kali ini kedua payudara itu yang dikerjain habis-habisan.

Diremas-remas,dipijat-pijat, bahkan ia sampai mencubit kedua puting mungil itu. Nurul hanya bisa pasrah menahan deritanya. Rampok itu melanjutkan aksinya dengan menciumi dan menjilat payudara Nurul mulai dari lembah sampai ke puncaknya.

Sampai di puncak,ia menghisap dan mengulum pentil itu dengan penuh semangat sampai terkadang saking gemasnya ia gigit pentil Nurul. Nurul hanya bisa melenguh dan mendesah menahan sakit dan nikmat tersebut .gadis berjilbab itu compang-camping ditindih perampok,meski hanya tersisa jilbabnya yang melekat dikepalanya. Puas dengan gunung kembar itu, rampok tersebut mulai berpindah sasaran kali ini ia segera melucuti celana dalam Nurul.

Ia pun kembali terpana melihat vagina Nurul yang masih suci dan indah hanya ditutupi bulu-bulu halus, karena Nurul tergolong apik ia sering mencukur bulunya agar terlihat rapi. Tidak tahan lagi rampok tersebut segera ‘menyerang’ vagina itu dengan lidahnya Dibentangkannya kaki Nurul lebar-lebar, ia pun segera menukik menyerang selangkangan Nurul yang sudah ‘wide open’ itu. Lidah tersebut bergerak lincah ke segala arah menjelajahi vagina.

Permainan ituberlangsung kira-kira 5 menit, lalu rampok itu maju ke babak berikutnya. Kali ini giliran Nurul yang beraksi. Sang rampok menbuka celana dalamnya sendiri. Terlihat batang penisnya yang hitam berurat sudah benar-benar berdiri menunggu giliran, dikocok-kocoknya sebentar batang itu. Lalu diarahkannya ke wajah gadis ayu berjilbab tersebut. Digesek-gesekkannya batang penis itu di wajah alim Nurul. Nurul tidak bisa menolak, ia hanya pasrah membiarkan batang itu bergesekan dengan wajahnya.

Setelah itu sang rampok memaksa Nurul untuk membuka mulutnya.

” HEH! Buka mulutlu !ayo isap!!..AYOO!!..”

Nurul dengan perlahan membuka mulutnya,segera saja rudal rampok itu masuk kedalam mulutnya dan bergerak maju mundur di dalam mulut Nurul. “Hei ayo goyangin lidah lu,jilat dan isap penis gua!”

Mendengar itu Nurul mematuhinya, ia mulai menjilat batang penis itu dengan perlahan. Ternikmat.com Rampok itu semakin cepat menggoyangkan pinggulnya di hadapan wajah Nurul, setelah puas, ia langsung mencoba menyerang bibir Nurul yang satu lagi yang berada di selangkangan. Nurul telah hampir telanjang bulat, jubahnya terbuka lebar dan setengah koyak,tetapi kepalanya masih tertutup jilbab. Diarahkannya rudal itu ke lobang kenikmatan. Agak sedikit susah karena lubang tersebut masih virgin, Tetapi akhirnya berhasil diterobos juga, penis hitam dan besar itu akhirnya berhasil keluar masuk di vagina Nurul.

Pertama-tama gerakannya perlahan tetapi lama kelamaan semakin cepat dan brutal, ia tidak mempunyai rasa kasihan kepada Nurul yang berteriak kesakitan karena dimasuki oleh penis yang begitu besar.

” Ah..Ah…ah..euh..eanaaak…ayo neng..terusss…enaaak…Wuuh..!”

 gumam sang rampok sembari memompa vagina Nurul. Sungguh pemandangan yang mengundang hawa nafsu, seorang gadis cantik berjilbab berkulit putih bersih dan telanjang bulat hanya sehelai jilbab yang menutupi kepalanya saja berada di posisi bawah ditindih seorang preman yang bertato.

Mendapat perlakuan itu Nurul hanya bisa menggeliat menahan geli dan rangsangan yang begitu hebat.Tetapi ia mencoba bertahan untuk tidak orgasme, walau dipompa sedemikian rupa oleh penis sang rampok. 20 menit kemudian, sang rampok tidak tahan lagi, akhirnya ia memuntahkan air maninya didalam vagina Nurul. “Euuuh….euuuhh….sssssttt…aaaah…gua ngecrotaaaah….enaaaak..”

Gumam sang rampok sembari penisnya memuntahkan lahar putihnya itu. Tubuh sang rampok terlihat berkelejotan saat berejakulasi.. Nampak benar-benar nikmat sekali orgasme sang rampok Rampok itu masih terdiam di atas tubuh Nurul dan membiarkan penisnya tetap berada di dalam vagina Nurul untuk beberapa saat, Ia membiarkan sisa-sisa spermanya untuk keluar sampai tetes sperma terakhir,

lalu ia mulai menarik keluar penisnya dari vagina Nurul, tampak penisnya yang sudah mengecil itu masih basah karena semprotan air maninya sendiri dan cairan vagina Nurul. Lalu ia memberikan kesempatan kepada teman-temannya yang lain. Rekan rampok yang lain bergerak maju,kali ini ia menyerang Nurul dari belakang. Disingkapnya jubah nurul yang menutupi bokongnya lalu diserangnya anus Nurul dengan gencar.

Posisi Nurul yang tinggal menggenakan jilbab sekarang seperti anjing yang sedang kawin..Rampok itu dengan kasar memasukkan penisnya ke lubang anus Nurul. Nurul hanya bisa mengerang kesakitan. Tubuhnya bergerak-gerak akibat hentakan sang rampok sampai-sampai payudaranya pun terbanting-banting akibat goyangan sang rampok..

Rampok tersebut memegangi kedua belah pantat Nurul agar tetap terarah sesekali ia tampar pantat Nurul seperti layaknya memecut pantat kuda. Goyangan sang rampok semakin cepat. Lalu ditariknya tubuh Nurul sampai punggung Nurul telah menempel di dada sang rampok. Sang rampok segera menggerayangi payudara Nurul dari belakang sambil ia menciumi leher yang sexy.

Kumis sang rampok yang tebal mencucuki leher Nurul, sehingga ia merasa geli. Nurul hanya bisa memejamkan mata menahan derita itu sambil sesekali merintih, dan mendesah sehingga desahannya semakin merangsang semua rampok yang ada dikamar tersebut “Euuh…aaaaaahhh periiih…

aduuuhhh…ampuuunn..paaak…..”rintih Nurul. “AaaAhh..dikit lagi neeengg…ayoooo…
sssstt.aaaahh..Oohhh..”

Teriak sang rampok sembari goyangannya dipercepat, rupanya ia akan segera klimaks, tak lama kemudian ia akhirnya menyemburkan air maninya didalam lubang anus Nurul. Air maninya sangat banyak sampai menetes keluar menyelusuri anus dan paha .

Rampok itu tersenyum puas akhirnya ia bisa merasakan tubuh seorang gadis cantik berjilbab yang sangat sexy bahkan anusnya lah yang pertama kali ditembusnya. Setelah itu kembali giliran rampok yang lain, kali ini ia memaksa Nurul untuk berlutut dan melayani penisnya dengan mulutnya. Penis rampok yang berikut ini sungguh besar dan sudah berdiri tegang. Nurul tak ada pilihan lain untuk melayani kemauan rampok itu.

Dengan ganas rampok itu menggoyang-goyangkan penisnya dimulut Nurul. Kali ini Jubah Nurul benar-benar telah basah oleh cairan-cairan mani.”Ayoo.sedoottt.. yang kencaaaaang… ayoooo!!!” Bentaknya sembari memegangi kepala Nurul yang mengenakan jilbab dan mengarahkannya maju mundur. Hentakannya sangat cepat sampai-sampai buah zakarnya memukul-mukul dagu Nurul. Ternikmat.com Tak sampai 10 menit ia pun tidak tahan lagi, sentuhan lidah dan bibir Nurul membuat penisnya ngaceng berat. Ia pun segera memuntahkan air maninya yang banyak di dalam mulut Nurul,

”Aaaahhh..enaaaaak….aaaahh…aaahhh…Ouhhh…Oouhh..ssstt..”

Erangnya sambil menahan kepala nurul agar tidak lepas saat ia berejakulasi dan seluruh air maninya tumpah ruah di dalam mulutnya dan jilbab putihnya. Beberapa saat kemudian Nurul tidak tahan lagi, ia pun akhirnya hancur juga pertahanannya, akhirnya Nurul ejakulasi dengan deras, cairannya keluar sangat banyak karena ia sedari tadi menahan rangsangan yang ia terima. Peristiwa itu disambut para perampok dengan teriakan-teriakan tertawa membahana,bahkan tanpa rasa jijik seorang dari mereka menjilat cairan vagina Nurul.

”Sluuurrppp…sluuurrpp..hmmm..nikmaaat..rasanya air mani pertama gadis perawan..hahaha….” Para perampok tertawa puas,.

Setelah puas menggarap Nurul, para rampok itu segera beranjak pergi sambil membawa barang jarahannya meninggalkan Nurul yang masih bugil terkulai lemas di ranjangnya yang penuh dengan bercak sperma dan darahnya. Dia hanya bisa menangis sesegukan meratapi nasibnya..

Oh… mimpi buruk apa aku.. isaknya....
read more

Sunday, August 10, 2014

Nikmatnya Bercinta Dengan Teman Suamiku | Cerita Seks Dewasa

Sunday, August 10, 2014 0 comments

 agen judi poker dan domino online terpercaya di indonesia

Cerita Seks Dewasa - Sebut saja nama ku Sinta, wanita umur 28 thn dan orang-orang bilang bentuk tubuhku amatlah proposional, tinggi 170 cm berat 55kg dan ukuran buah dada 34B, ditunjang wajah cantik (itu juga orang-orang yang bilang) dan kulit putih cerah. Sebelumnya aku memang sering bekerja menjadi SPG pada pameran mobil dan banyak orang mengelilingi mobil yang aku pamerkan bukan utk melihat mobil tetapi untuk melihatku.

Menikah dengan Roni, 30 thn, seorang pekerja sukses. Kami memang sepakat utk tidak punya anak terlebih dahulu dan kehidupan seks kami baik-baik saja, Roni dapat memenuhi kebutuhan seks ku yang boleh dibilang agak hyper..sehari bisa minta 2 sesi pagi sebelum Roni berangkat kerja dan malam sebelum tidur.

Dan cerita ini berawal dari kesuksesan Roni bekerja di kantornya dan mendapat kepercayaan dari sang atasan yang sangat baik. Kepercayaan ini membuat dia sering harus bekerja overtime, pada awalnya aku bisa menerima semua itu tetapi kelamaan kebutuhan ini harus dipenuhi juga dan itulah yang membuat kami sering bertengkar karena kadang Roni harus berangkat lebih pagi dan lewat tengah malam baru pulang.

Dan mulailah cerita ini ketika Roni mendapat tanggung jawab untuk menangani suatu proyek dan dia dibantu oleh rekan kerjanya Bram dari luar kota. Pertama diperkenalkan Bram langsung seperti terkesima dan sering menatapku, hal itu membuatku risih. Bram cukup tampan gagah dan kekar.

Karena tuntutan pekerjaan dan efisiensi, kantor Roni memutuskan agar Bram tinggal di rumah kami utk sementara. Dan memang mereka berdua sering bekerja hingga larut malam di rumah kami. Bram tidur di kamar persis di seberang kamar kami.

Sering di malam hari aku berpamitan tidur matanya yang nakal suka mencuri pandang diantara sela-sela baju tidur yang aku kenakan. Aku memang senang tidur bertelanjang agar jika Roni datang bisa langsung bercinta.

Pernah suatu saat ketika pagi hari kami aku dan Roni bercinta di dapur waktu masih pagi sekali dengan posisiku duduk di meja dan Roni dari depan, tiba-tiba Bram muncul dan melihat kami, dia menempelkan telunjuk dimulutnya agar aku tidak menghentikan kegiatan kami, karena kami sedang dalam puncaknya dan Roni yang membelakangi Bram dan aku juga tidak tega menghentikan Roni, akhirnya ku biarkan Bram melihat kami bercinta tanpa Roni sadari hingga kami berdua orgasme. Dan aku tahu Bram melihat tubuh telanjangku ketika Roni melepaskan penisnya dan terjongkok di bawah meja. Setelah kejadian itu Bram lebih sering memperhatikan tiap lekuk tubuhku.

Sampai suatu waktu ketika pekerjaan Roni benar2 sibuk sehingga hampir seminggu tidak menyentuhku. Di hari Jum’at kantor tempat Roni bekerja mengadakan pesta dinner bersama di rumah atasan Roni . Rumahnya terdiri dari dua lantai yang sangat mewah di lantai 2 ada semacam galeri barang2 antik. Kami datang bertiga dan malam itu aku mengenakan pakaian yang sangat seksi, gaun malam warna merah yang terbuka di bagian belakang dan hanya dikaitkan di belakang leher oleh kaitan kecil sehingga tidak memungkinkan memakai BH, bagian bawahpun terdapat sobekan panjang hingga sejengkal di atas lutut, malam itu saya merasa sangat seksi dan Bram pun sempat terpana melihatku keluar dari kamar. Sebelum berangkat aku dan Roni sempat bercinta di kamar dan tanpa sepengetahuan kami ternya Bram mengintip lewat pintu yang memang kami ceroboh tidak tertutup sehingga menyisakan celah yang cukup untu melihat kami dari pantulan cermin, sayangnya karena letih atau terburu-buru mau pergi Roni orgasme terlebih dahulu dan aku dibiarkannya tertahan. Dan Bram mengetahui hal itu.

Malam itu ketika acara sangat ramai tiba-tiba Roni dipanggil oleh atasannya untuk diperkenalkan oleh customer. Roni berkata padaku untuk menunggu sebentar, sambil menunggu aku ke lantai 2 untuk melihat barang2 antik, di lantai 2 ternyata keadaan cukup sepi hanya 2-3 orang yang melihat-lihat di ruangan yang besar itu. Aku sangat tertarik oleh sebuah cermin besar di pojokan ruangan, tanpa takut aku melihat ke sana dan mengaguminya juga sekaligus mengagumi keseksian tubuhku di depan cermin, tanpa ku sadari di sampingku sudah berada Bram .

“Udah nanti kacanya pecah lho..cakep deh..!”, canda Bram
“Ah bisa aja kamu Bram”,balasku tersipu.

Setelah berbincang2 di depan cermin cukup lama Bram meminta tolong dipegangkan gelasnya sehingga kedua tanganku memegang gelasnya dan gelasku.

“Aku bisa membuat kamu tampak lebih seksi”,katanya sambil langsung memegang rambutku yang tergerai dengan sangat lembut. Tanpa bisa mengelak dia telah menggulung rambutku sehingga menampak leherku yang jenjang dan mulus dan terus terang aku seperti terpesona oleh keadaan diriku yang seperti itu. dan memang benar aku terlihat lebih seksi. Dan saat terpesona itu tiba-tiba tangan Bram meraba leherku dan membuatku geli dan detik berikutnya Bram telah menempelkan bibirnya di leher belakangku, daerah yang paling sensitif buatku sehingga aku lemas dan masih dengan memegang gelas Bram yang telah menyudutkanku di dinding dan menciumi leherku dari depan. “Bram apa yang kamu lakukan..lepaskan aku Bram..lepas..!”,rontaku tapi Bram tahu aku tidak akan berteriak di suasana ini karena akan mempermalukan semua orang.

Bram terus menyerangku dengan kedua tanganku memegang gelas dia bebas meraba buah dadaku dari luar dan terus menciumi leherku, sambil meronta-ronta aku merasakan gairahku meningkat, apalagi saat tiba-tiba tangan Bram mulai meraba belahan bawah gaunku hingga ke selangkanganku. “Bram..hentikan Bram aku mohon..tolong Bram..jangan lakukan itu..”,rintihku, tapi Bram terus menyerang dan jari tengah tangannya sampai di bibir vaginaku yang ternyata telah basah karena serangan itu. Dia menyadari kalau aku hanya mengenakan G-string hitam dengan kaitan di pinggirnya, lalu dengan sekali sentakan dia menariknya dan terlepaslah G-stringku. Aku terpekik pelan apalagi merasakan ada benda keras mengganjal pahaku. Ketika Bram sudah semakin liar dan akupun tidak dapat melepaskan, tiba-tiba terdengar suara Roni memanggil dari pinggir tangga yang membuat pegangan himpitan Bram terlepas, lalu aku langsung lari sambil merapikan pakaian ku menuju Roni yang tidak melihat kami dan meninggalkan Bram dengan G-string hitamku. Aku sungguh terkejut dengan kejadian itu tapi tanpa disadari aku merasakan gairah yang cukup tinggi merasakan tantangan melakukan di tempat umum walau dalam kategori diperkosa.

Ternyata pesta malam itu berlangsung hingga larut malam dan Roni mengatakan dia harus melakukan meeting dengan customer dan atasannya dan dia memutuskan aku untuk pulang bersama Bram. Tanpa bisa menolak akhirnya malam itu aku diantar Bram, diperjalanan dia hanya mengakatakan “Maaf Sinta..kamu sungguh cantik malam ini.” Sepanjang jalan kami tidak berbicara apaun. Hingga sampai dirumah aku langsung masuk ke dalam kamar dan menelungkupkan diri di kasur, aku merasakan hal yang aneh antara malu aku baru saja mengalami perkosaan kecil dan perasaan malu mengakui bahwa aku terangsang hebat oleh serangan itu dan masih menyisakan gairah. Tanpa sadar ternyata Bram telah mengunci semua pintu dan masuk ke dalam kamarku, aku terkejut ketika mendengar suaranya’, “Sinta aku ingin mengembalikan ini”‘ katanya sambil menyerahkan G-stringku berdiri dengan celana pendek saja, dengan berdiri aku ambil G-stringku dengan cepat, tapi saat itu juga Bram telah menyergapku lagi dan langsung menciumiku sambil langsung menarik kaitan gaun malamku, maka bugilah aku diahadapannya. Tanpa menunggu banyak waktu aku langsung dijatuhkan di tempat tidur dan dia langsung menindihku.

Aku meronta-ronta sambil menendang-nendang?”Bram..lepaskan aku Bram..ingat kau teman suamiku Bram..jangan..ahh..aku mohon”, erangku ditengah rasa bingung antara nafsu dan malu, tapi Bram terus menekan hingga aku berteriak saat penisnya menyeruak masuk ke dalam vaginaku, ternyata dia sudah siap dengan hanya memakai celana pendek saja tanpa celana dalam.

“Ahhhh?Braam..kau..:’ Lalu mulailah dia memompaku dan lepaslah perlawananku, akhirnya aku hanya menutup mata dan menangis pelan..clok..clok..clok..aku mendengar suara penisnya yang besar keluar masuk di dalam vaginaku yang sudah sangat basah hingga memudahkan penisnya bergerak. Lama sekali dia memompaku dan aku hanya terbaring mendengar desah nafasnya di telingaku, tak berdaya walau dalam hati menikmatinya. Sampai kurang lebih satu jam aku akhirnya melenguh panjang “Ahhh?..” ternyata aku orgasme terlebih dahulu, sungguh aku sangat malu mengalami perkosaan yang aku nikmati. Sepuluh menit kemudian Bram mempercepat pompaannya lalu terdengar suara Bram di telingaku “Ahhh..hmmfff?” aku merasakan vaginaku penuh dengan cairan kental dan hangat sekitar tiga puluh deti kemudian Bram terkulai di atasku.

“Maaf Sinta aku tak kuasa menahan nafsuku..”bisiknya pelan lalu berdiri dan meninggalkanku terbaring dan menerawang. hinga tertidur Aku tak tahu jam berapa Roni pulang hingga pagi harinya.

 agen judi poker dan domino online terpercaya di indonesia
Esok paginya di hari sabtu seperti biasa aku berenang di kolam renang belakang,, Roni dan Bram berpamitan untuk nerangkat ke kantor. Karena tak ada seorang pun aku memberanikan diri untuk berenang tanpa pakaian. Saat asiknya berenang tanpa disadari, Bram ternyata beralasan tidak enak badan dan kembali pulang, karena Roni sangat mempercayainya maka dia izinkan Bram pulang sendiri. Bram masuk dengan kunci milik Roni dan melihat aku sedang berenang tanpa pakaian. Lalu dia bergerak ke kolam renag dan melepaskan seluruh pakaiannya, saat itulah aku sadari kedatangannya, “Bram..kenapa kau ada di sini?” tanyaku, “Tenang Sinta suaimu ada di kantor sedang sibuk dengan pekerjaannya”, aku melihat tubuhnya yang kekar dan penisnya yang besar mengangguk angguk saat dia berjalan telanjang masuk ke dalam kolam “Pantas sajaku semalam vaginaku terasa penuh sekali”‘pikirku. Aku buru-buru berenang menjauh tetai tidak berani keluar dr dalam kolam karena tidak mengenakan pakaian apapun juga. Saat aku bersandar di pingiran sisi lain kolam, aku tidak melihat ada tanda2 Bram di dalam kolam. Aku mencari ke sekeliling kolam dan tiba-tiba aku merasakan vaginaku hangat sekali, ternyata Bram ada di bawah air dan sedang menjilati vaginaku sambil memegang kedua kakiku tanpa bisa meronta.

Akhirnya aku hanya bisa merasakan lidahnya merayapai seluruh sisi vaginaku dan memasuki liang senggamaku..aku hanya menggigit bibir menahan gairah yang masih bergelora dari semalam. Cukup lama dia mengerjai vaginaku, nafasnya kuat sekali pikirku. Detik berikutnya yang aku tahu dia telah berada di depanku dan penisnya yang besar telah meneyruak menggantian lidahnya? “Arrgghh..” erangku menahan nikmat yang sudah seminggu ini tidak tersentuh oleh Roni. Akhirnya aku membiarkan dia memperkosaku kembali dengan berdiri di dalam kolam renang. Sekarang aku hanya memeluknya saja dan membiarkan dia menjilati buah dadaku sambil terus memasukan penisnya keluar masuk. Bahkan saat dia tarik aku ke luar kolam aku hanya menurutinya saja, gila aku mulai menikamti perkosaan ini, pikirku, tapi ternyata gairahku telah menutupi kenyataan bahwa aku sedang diperkosa oleh teman suamiku. Dan di pinggir kolam dia membaringkanku lalu mulai menyetubuhi kembai tubuh mulusku..”Kau sangat cantik dan seksi Sinta..ahh” bisiknya ditelingaku.

Aku hanya memejamkan mata berpura-pura tidak menikmatinya, padahal kalau aku jujur aku sangat ingin memeluk dan menggoyangkan pantatku mengimbangi goyangan liarnya. Hanya suara eranggannya dan suara penisnya maju mundur di dalam vaginaku, clok..clok..clep..dia tahu bahwa aku sudah berada dalam kekuasaannya. Beberapa saat kemudian kembali aku yang mengalami orgasme diawali eranganku “Ahhh..” aku menggigit keras bibirku sambil memegang keras pinggiran kolam, “Nikmati sayang?”demikian bisiknya menyadari aku mengalami orgasme. Sebentar kemudian Bram lah yang berteriak panjang, “Kau hebat Sinta..aku cinta kau..AAHHH..HHH” dan aku merasakan semburan kuat di dalam vaginaku. Gila hebat sekali dia bisa membuatku menikmatinya pikirku. Setelah dia mencabut penisnya yang masih terasa besar dan keras, aku reflek menamparnya dan memalingkan wajahku darinya. Aku tak tahu apakah tamparan itu berarti kekesalanku padanya atau karena dia mencabut penisnya dari vaginaku yang masih lapar.

Setelah Roni pulang herannya aku tidak menceritakan kejadian malam lalu dan pagi tadi, aku berharap Roni dapat memberikan kepuasan padaku. Dengan hanya menggenakan kimono dengan tali depan aku dekati Roni yang masih asik di depan komputernya di dalam kamar, lalu aku buka tali kimonoku dan kugesekan buah dadaku yang besar itu ke kepalanya dari belakang, berharap da berbalik dan menyerangku. Ternyta yang kudapatkan adalah bentakannya “Sinta..apakah kamu tak bisa melihat kalau aku sedang sibuk? Jangan kau ganggu aku dulu..ini untuk masa depan kita” teriaknya keras. Aku yakin Bram juga mendengar teriakannya. Aku terkejut dan menangis, lalu aku keluar kamar dengan membanting pintu, lalu aku pergi ke pinggir kolam dan duduk di sana merenung dan menahan nafsu. Dari kolam aku bisa melihat bayangan di Roni di depan komputer dan lampu di kamar Bram. Tampak samar-samar Bram keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Karena di luar gelap tak mungkin dia melihatku.

Tanpa sadar aku mendekat ke jendelanya dan memperhatikan Bram mengeringkan tubuh. Gila kekar sekali tubuhnya dan yang menarik perhatianku adalah penisnya yang besar dan tegang mengangguk-angguk bergoyang sekanan memanggilku. Aku malu sekali mengagumi dan mengaharapkan kembali penis itu masuk ke dalam vaginaku yang memang masih haus. Perlahan aku membelai-belai vaginaku hingga terasa basah, akhirnya aku memutuskan untuk memintanya pada Bram, dengan hati yang berdebar kencang dan nafsu yang sudah menutupi kesadaran, aku nekat masuk ke dalam kamar Bram dan langsung mengunci pintu dari dalam. Bram sangat terkejut “Sinta..apa yang kamu lakukan?”, aku hanya menempelkan telunjuk di bibirku dan memberi isyarat agar tidak bersuara karena Roni ada di kamar seberang. Langsung aku membuka pakaian tidurku dan terpampanglah tubuh putih mulusku tanpa sehelai benagpun di hadapannya, Bram hanya terperangah dan menatap kagum pada tubuhku. Bram tersenyum sambil memperlihatkan penisnya yang semakin membesar dan tampak berotot. Dengan segera aku langsung berlutut di hadapannya dan mengulum penisnya, Bram yang masih terkejut dengan kejadian ini hanya mendesah perlahan merasakan penisnya aku kulum dan hisap dengan nafsuku yang sudah memuncak.

Sambil mulutku tetap di dalam penisnya aku perlahan naik ke atas tempat tidur dan menempatkan vaginaku di mulut Bram yang sudah terbaring, dia mengerti maksudku dan langsung saja lidahnya melahap vaginaku yang sudah sangat basah, cukup lama kami dalam posisi itu, terinat akan Roni yang bisa saja tiba-tiba datang aku langsung mengambil inisiatif untuk merubah posisi dan perlahan duduk di atas penisnya yang sudah mengacung tegang dan besar panjang. Perlahan aku arahkan dan masukan ke dalam lubang vaginaku, rasanya berbeda dengan saat aku diperkosanya, perlahan tapi pasti aku merasaskan suatu sensasi yang amat besar sampai akhirnya keseluruhan batang penis Bram masuk ke dalam vaginaku “Ahh..sssfff..Braaam!” erangku perlahan menahan suara gairahku agar tidak terdengar, aku merasakan seluruh penisnya memenuhi vaginaku dan menyentuh rahimku. Sungguh suatu sensasi yang tak terbayangkan, dan sensasi itu semakin bertambah saat aku mulai menggoyangkan pantatku naik turun sementara tangan Bram dengan puasnya terus memainkan kedua buah dadaku memuntir-muntir putingku hingga berwarna kemerahan dan keras “ahh..ahh..” demikian erangan kami perlahan mengiringi suara penisnya yan keluar masuk vaginaku clok..clok..clok? Tak tahan dengan nafsunya mendadak Bram duduk dan mengulum buah dadaku dengan rakusnya bergantian kiri kanan bergerak ke leher dan terus lagi. Aku sungguh tak dapat menahan gairah yang selama ini terpendam.

Mungkin karena nafsu yang sudah sangat tertahan atau takut Roni mendengar tak kuasa aku melepaskan puncak gairahku yang pertama sambil mendekap erat Bram dan menggigit pundaknya agar tidak bersuara, kudekap erta Bram seakan tak dapat dilepaskan mengiringi puncak orgasmeku. Bram merasakan penisnya disiram cairan hangat dan tahu bahwa aku mengalami orgasme dan membiarkanku mendekapnya sangat erat sambil memelukku dengan belaian hangatnya. Selesai aku orgasme sekiat 30 detik, Bram membalikan aku dengan penisnya masih tertancap di dalam vaginaku. Bram mulai mencumbuku dengan menjilati leher dan putingku perlahan, entah mengapa aku kembali bernafsu dan membalas ciumannya denga mesra, lidah kami saling berpagutan dan Bram merasakan penisnya kembali dapat keluar masuk dengan mudah karena vaginaku sudah kembali basah dan siap menerima serangan berikutnya. Dan Bram langsung memompa penisnya dengan semangat dan cepat membuat tubuhku bergoyang dan buah dadaku bergerak naik turun dan sungguh suara yang timbul antara erangan kami berdua yang tertahan derit tempat tidur dan suara penisnya keluar masuk di vaginaku kembali membakar gairahku dan aku bergerak menaik turunkan pantatku untuk mengimbangi Bram.

Dan benar saja 10 menit kemudian aku sampai pada puncak orgasme yang kedua, dengan meletakan kedua kakiku dan menekan keras pantatnya hingga penisnya menyentuh rahimku. Kupeluk Bram dengan erat yang membiarkan aku menikmati deburan ombak kenikmatan yang menyerangku berkali-kali bersamaan keluarnya cairanku. Kugigit bibirku agar tidak mengeluarkan suara, cukup lama aku dalam keadaan ini dan anehnya setelah selesai aku berada dalam puncak ternyata aku sudah kembali mengimbangi gerakan Bram dengan menaik turunkan pantatku. Saat itulah kudengar pintu kamarku terbuka dan detik berikutnya pintu kamar Bram diketuk Roni, “Bram..kau sudah tidur?”, demikian ketuk Roni. Langsung saja Bram melepaskan pelukannya dan menyuruhku bersembunyi di kamar mandi. Sempat menyambar pakaian tidurku yang tergeletak di lantai aku langsung lari ke kamar mandi dan mengunci dari luar. Sungguh hatiku berdebar dengan kerasnya membayangkan apa jadinya jika aku ketahuan suamiku.

Bram dengan santai dan masih bertelanjang membuka pintu dan mengajak Roni masuk, Roni sempat terkejut melihat Bram telanjang,”Sedang apa kamu Bram” tanpa curiga dengan tempat tidur yang berantakan yang kalau diperhatikan dari dekat ada cairan kenikmatanku. Bram hanya tersenyum dan mengatakan,”Mau tau aja..” Dasar Roni dia langsung membicarakan suatu hal pekerjaan dan mereka terlibat pembicaraan itu. Kurang lebih sepuluh menit mereka berbicara dan sepuluh menit juga hatiku sungguh berdebar-debar tapi anehnya dengan keadaan ini nafsuku sungguh semakin menjadi-jadi. Setelah Roni keluar, Bram kembali mengunci pintu kamar dan mengetuk kamar mandi perlahan,”Sinta buka pintunya..sudah aman”. Begitu aku buka pintunya Bram langsung menarik aku dan mendudukanku di meja dekat kamar mandi, langsung saja dibukanya kedua kakiku dan bless penisnya kembali memenuhi vaginaku “Ahhh..ahh..” erangan kami berdua kembali terdengar perlahan sambil terus menggoyangkan pantatnya maju mundur Bram melahap buah dadaku dan putingku.

Sepuluh menit berlalu dan goyang Bram semakin cepat sehingga aku tahu dia akan mencapai puncaknya, dan akupun merasakan hal yang sama “Braaam lebih cepat sayang aku sudah hampir keluar..” desahku “Tahan sayang kita bersamaan keluarnya”, dan benar saja saat kurasakan maninya menyembur deras dalam vaginaku aku mengalami orgasme yang ketiga dan lebih hebat dari yang pertama dan kedua, kami saling berpelukan erat dan menikmati puncak gairah itu bersamaan. “Braaammm..,” desahku tertahan. “Ahhh Sinta..kau hebat..” demikian katanya. Akhirnya kami saling berpelukan lemas berdua, sungguh suatu pertempuran yang sangat melelahkan. Saat kulirik jam ternyata sudah dua jam kami bergumul. “Terima kasih Bram..kau hebat..” kataku dengan kecupan mesra dan langsung memakai pakaian tidurku kembali dan kembali ke kamarku. Roni tidak curiga sama sekali dan tetap berkutat dengan komputernya dan tidak menghiraukanku yang langsung berbaring tanpa melepas pakaianku seperti biasanya karena aku tahu ada bekas ciuman Bram di sekujur buah dadaku. Malam itu aku merasa sangat bersalah pada Roni tapi di lain sisi aku merasa sangat puas dan tidur dengan nyenyaknya.

Esoknya seperti biasa di hari Minggu aku dan Roni berenang di pagi hari tetapi mengingat adanya Bram, kami yang biasanya berenang bertelanjang akhirnya memutuskan memakai pakaian renag, aku syukuri karena hal ini dapat menutupi buah dadaku yang masih memar karena gigitan Bram. Saat kami berenang aku menyadari bahwa Bram sedang menatap kami dari kamarnya. Dan saat Roni sedang asyik berenang kulihat Bram memanggilku dengan tangannya dan yang membuat aku terkejut dia menunjukan penisnya yang sudah mengacung besar dan tegang. Seperti di hipnotis aku nekat berjalan ke dalam.”Ron aku mau ke dalam ambil makanan ya..!” kataku pada Roni, dia hanya mengiyakan sambil terus berenang, Roni memang sangat hobi berenang bisa 2 jam nonstop tanpa berhenti.

Aku dengan tergesa masuk ke dalam dan menuju kamar Bram. Di sana Bram sudah menunggu dan tak sabar dia melucuti pakain renangku yang memang hanya menggunakan tali sebagai pengikatnya. “Gila kamu Bram..bisa ketahuan Roni lho,” protesku tanpa perlawanan karena aku sendiri sangat bergairah oleh tantangan ini. dan dengan kasar dia menciumi punggungku sambil meremas buah dadaku “Tapi kamu menikmatinya khan?!,” goda Bram sambil mencium leher belakangku. Dan aku hanya mendesah menahan nikmat dan tantangan ini. Yang lebih gila Bram menarikku ke jendela dan masih dari belakang dia meremas-remas buah dadaku dan meciumi punggung hingga pantatku, “Gila kau Bram, Roni bisa melihat kita,” tapi anehnya aku tidak berontak sama sekali dan memperhatikan Roni yang benar-benar sangat menikamti renangnya. Di kamar Bram pun aku sangat menikmati sentuhan Bram. “Sinta kamu suka ini khan?” tanyanya sambil dengan keras menusukan penisnya ke dalam vaginaku dari belakang. “AHH..Bram..” teriakku kaget dan nikmat, sekarang aku berani bersuara lebih kencang karena tahu Roni tidak akan mendengarnya. Langsung saja Bram memaju mundurkan penisnya di vaginaku..”Ahh.. Bram lebih kencang..fuck me Bram..puaskan aku Bram..penismu sungguh luar biasa..Bram aku sayang kamu..” teriakku tak keruan dengan masih memperhatikan Roni.

Bram mengimbangi dengan gerakan yang liar hingga vaginaku terasa lebih dalam lagi tersentuh penisnya dengan posisi ini,”Sinta..khhaau hhebat..” desahnya sambil terus menekanku, kalau saja Roni melihat sejenak ke kamar Bram maka dia akn sangat terkejut meilhat pemandangan ini, istrinya sedang bercinta dengan rekan kerjanya. Ternyata kami memang bisa saling mengimbangi, kali ini dalam waktu 20 menit kami sudah mencapai puncak secara bersamaan “Teruuus Bram lebih khheeenncang..ahhhh aku keluar Braaaaam”, teriaku. “Aaakuu juga Tyyaaasss..nikkkkmat ssekali mmmeemeekmu..aahhhhh.” teriaknya bersamaan dengan puncak kenikmatan yang datang bersamaan. Setelah itu aku langsung mencium bibirnya dan kembali mengenakan pakaian renangku dan kembali berenang bersama Roni yang tidak menyadari kejadian itu.

Setelah itu hari-hari berikutnya sungguh mendatangkan gairah baru dalam hidupku dengan tantangan bercinta bersama Bram. Pernah suatu saat ketika akhirnya Roni mau bercinta denganku di suatu malam hingga akhirnya dia tertidur kelelahan, aku hendak mengambil susu di dapur dan karena sudah larut malam aku nekat tidak mengenakan pakaian apapun. Saat aku membungkuk di depan lemari es sekelebat ku lihat bayangan di belakangku sebelum aku menyadari Bram sudah di belakangku dan langsung menubruku dari belakang. Penisnya langsung menusuk vaginaku yang membuatku hanya tersedak dan menahan nikmat tiba-tiba ini. Kami bergumul di lantai dapur lalu dia mengambil kursi dan duduk di atasnya sambil memangku aku, “Bram kamu nakal” desahku yang juga menikmatinya dan kami bercinta hingga hampir pagi di dapur. Sungguh bersama Bram kudapatkan gairah terpendamku selama ini.

Akhirnya ketika proyek kantor Roni selesai Bram harus pergi dari rumah kami dan malam sebelum pergi aku dan Bram menyempatkan bercinta kembali.
read more

Sunday, July 27, 2014

Bercinta Dengan Adik Ku Di Alam Terbuka | Cerita Seks Dewasa

Sunday, July 27, 2014 1 comments

 agen judi poker dan domino online terpercaya di indonesia

Cerita Seks Dewasa - Aku seorang pria berusia 30 tahun dan sudah menikah, kami sudah menikah empat tahun tapi belum dikaruniai seorang anak Rumah tangga kami cukup berantakan alias sering berantem terus setiap hari

Belakangan istriku makin sering meninggalkan rumah dengan alasan ingin fokus di karier bisnisnya, dia pergi meninggalkan aku berminggu minggu

Suatu ketika aku ditelpon oleh adik angkatku yang bernama siska, dia berusia 17 tahun, dia mengangap aku kakaknya karena aku sering beri dia wotivasi di saat menghadapi masalah. walaupun aku chinese dan dia batak, tapi kami merasa seperti saudara kandung Dia berkulit sawo matang, dan lumayan cantik wajahnya, tinggi badannya 156cm dengan body yang oke banget, bahkan ukuran dadanya sktr 36, tergolong big zise untuk ukuran seusia dia

Dia minta tolong sama aku untuk ditemenin nganter dia buat tugas akhir di daerah perkebunan sawit, aku tidak keberatan sedikitpun untuk mengantar dia, karena aku ingin membantu dia sebaik baiknya

Akhirnya kami menuju ke rumah temanku yang bekerja sebagai mandor sawit, kami naik motor sejauh 40km dari daerah tempat tinggal kami

Dalam perjalanan yang cukup panjang dia berkata kepadaku, ko, aku ngantuk, boleh ga bersandar di punggung koko?, kontan aja aku jawab boleh aja setelah itu aku baru sadar kalau ini yang pertama kali dia memeluk saya pada saat tubuhnya ditempel abis ke punggungku, mulai kacau pikiranku, aku merasakan merinding campur nyaman campur senang dan campur kikuk

Aku merasa kedua tonjolan dadanya menekan punggungku, dan dia cuek aja tidur merapat dipunggungku,apalagi setelah masuk area perkebunan yang jalannya cukup ancur, payudaranya terasa sering memukul mukul punggungku.

setelah selesai aku antar kerumah teman, dan dia menyelesaikan tugasnya, kami harus pulang menempuh jalan tanah di tengah kebun sawit sejauh 15km di tengah perjalanan dia bilang ko. aku kebelet pipis, nanti kalau ada semak semak berhenti ya ko Aku menjawab oke, tahan dulu ya

Akhirnya aku berpikir ajak dia aja ke sungai kecil yang terdekat dengan kami, kebetulan saya pernah mancing di sungai itu, kami harus masuk jalan setapak sekitar 3km akhirnya kami sampai di sungai kecil yang bening airnya dan dangkal airnya, dan ditepi sungai itu ada pasir putih seperti di pantai

setelah melihat sungai itu, timbul hasrat saya ingin mengajak dia mandi bersama, akhirnya kupancing adiku kamu ga kepanasan sis?, aku lihat kamu kepanasan? iya ko rasanya ingin berendam di sungai ini langsung aku ON.. aku beranikan omong ke dia kita mandi yuk Whatmandi!! jawabnya langsung dia pura pura mengalihkan perhatian saya, aku pipis dulu ya ko sambil dia berjalan ke arah ilalang tepi sungai, disaat dia pipis dibalik ilalang aku berpikir, dengan cara apa ya aku bisa ngajak dia bugil bareng aku? setelah dia selesai pipis dan kembali ke motor aku langsung bertanya: bolehkah ga aku mandi disini sekarang boleh aja ko. jawabnya dia pikir saya ga sampai bugil depan dia

Akhirnya aku lepas baju dan celana panjangku, aku melihat dia seperti kagum melihat tubuhku yang putih, matanya memperhatikan tubuhku tanpa kedip, sebelum aku plorotin cdku, aku tanya dulu ke dia aku boleh bugil di depanmu ga? HAaaa. terserah koko lah! akhirnya kunekatin plorotin cdku di depan matanya, pada saat itu dia memperhatikan ke arah cdku yang kuplorotin sontak dia berkata ..WuiiH besar banget punya koko. aku merasa senang dan bangga akan ukuran penisku, berarti dia ga jijik terhadap aku n penisku

Aku gandeng tangannya, aku blang ayo temenin aku mandi dia menjawab dengan malu2 nggak ah konanti ga da yang jaga motor n barang2 kita sambil dia melihat ke penisku terus aku jawab ga papa ini tempat sepi jarang ada orang sampai ke sini. akhirnya dia bilang aku malu lepas baju depan koko, tubuhku jelek, langsung aku jawab siapa bilang tubuhmu jelek, aku suka lihat bentuk tubuhmu dia tersipu malu menatapku, sambil berkata bener koko suka lihat tubuhku? aku jawab suka banget, karena aku sudah ga sabaran pengen berbugil ria dengannya akhirnya dia melepas kaos dan celana panjangnya, aku melihat tubuhnya yang masih terbalut cd dan bra, mulus banget, penisku makin tegang sampai sepanjang 13cm dan berdiameter 4cm, dia bilang aku pake cd n bra aja ya ko jangan nanti basah, kita pulangnya gimana nanti, ayo lepas aja bujukku. dia masih enggan melepasnya, dan dia berusaha mengalihkan perhatian ;wuiih penis koko makin besar dan panjang!! mau lihat lebih besar lagi ga? dia menjawab mau kalo mau lepas cd dan bramu akhirnya dia melepas branya dulu.

woww bagus banget dadamu sis, kataku dadanya kencang padat dan putingnya berwarna coklat tua dan cukup besar lingkar putingnya dia tersipu malu sambil mlorotin cdny, aku menunggu dengan penasaran dan jantung yang berdebar debar, seperti apa jembut dan vaginanya ? akhirnya aku melihat sekumpulan bulu yang cukup lebat berbentuk segitiga mengecil ke arah belahan vaginanya, sehingga belahan vaginanya bagian bawah terlihat jelas akhirnya kami berjalan bugil bersama menuju sungai, setelah kami berendam sebentar, aku langsung memeluk dan mencium bibirnya setelah kucium, dia melihat aku dengan kikuk, akhirnya kucium lagi, kali ini aku nekat masukin lidahku sampai ke dalam mulutnya dan mainin lidahnya sambil tangan kiriku menopang dia akuremas kedua payudaranya secara bergiliran dengan tangan kananku, dia mulai mendesah. setelah itu aku mulai mainin klitorisnya, desahannya makin kuat terdengar, aku coba masukin jari tengahku ke liang vaginanya, dia makin terengah dan meremas penisku dengan kuat, kami saling mendesah sambil jariku masuk ke vaginanya.

Aku tanya kepadanya "Mau ga ini dimasukin sama penisku?" dia menjawab mau banget ko akhirny kita bergeser agak ke tepi sungai, aku telentangi dia dia atas pasir putih yang masih tergenang air sungai, aku buka lebar selangkangannya aku jilatin klitorisnya, dia mendesah keras sambil berkata ;geli ko, tapi enak banget aku mulai masukan penisku ke lubang kenikmatannya, pertama dia bilang sudah ko, sakit rasanya aku bujuk dia; ga papa, itu biasa kalo pertama kali melakukan, sakitnya sebentar aja, setelah itu enak banget akhirnya kucoba memasukan lagi penisku ke vaginanya yang sempit banget, akhirnya kupaksain dan dia sempat teriak kesakitan, tapi setelah itu yang ada hanya desahan nikmat dari kami berdua, darah perwannya mulai membasahi penisku, aku sogokkan penisku dengan ritme makin cepat kedalam vaginanya, sampai dia terengah engah, setelah itu kami coba gaya dogy style, terasa ujung penisku menyentuh dinding saluran rahimnya, AAAoooohhh, enak banget ko, rasanya seperti kesetrum enakkatanya kami ml dialam terbuka di tengah aliran sungai yang bening banget dan disertai kicauan burung di alam sekitar kita, kami berpikir mungkin adam dan hawa dulu sepeti ini ya? hehe
read more

Friday, July 25, 2014

Pengalaman Bercinta Dengan Simpanan MamaKu | Cerita Seks Dewasa

Friday, July 25, 2014 1 comments

 agen judi poker dan domino online terpercaya di indonesia

Cerita Seks Dewasa - Mamaku itu memang hebat. Di usianya yang sudah kepala lima dia masih tetap cantik dan sexy. Di pekerjaanpun ia tetap paten. Karirnya melesat terus. Jabatannya kini sudah wakil direktur di perusahaan tempatnya bekerja. Karena hidup dengan Mama sejahtera, maka aku memilih untuk tinggal bersamanya sejak ia bercerai dengan Papaku setahun yang lalu.

Papaku yang cuma bekerja sebagai pegawai rendahan, mana bisa memenuhi kebutuhanku yang doyan hura-hura. Jangankan membelikanku mobil, sepeda motor aja Papa enggak bisa. Dua orang adikku juga memilih tinggal bersama Mama. Sama sepertiku, mereka juga doyan hura-hura. Ngabisin duit Mama yang aku enggak tahu gimana caranya, selalu saja ada. Apa yang kami minta selalu bisa dipenuhinya.

Namaku Tomi. Semester enam fakultas ekonomi di sebuah perguruan tinggi swasta yang beken di Jakarta. Adikku Mimi. Juga kuliah di fakultas ekonomi satu kampus denganku. Tapi dia masih duduk di semester dua. Adikku yang paling kecil, Toni. Dia masih kelas tiga SMU.

Dari kecil selalu hidup bergelimang harta, dari penghasilan Mamaku, membuat kehidupan glamour sangat melekat pada diri kami. Masing-masing kami dibelikan Mama mobil sebagai alat transportasi. Uang jajan tak pernah kurang. Karena itu aku dan adik-adikku tak pernah protes dengan apapun yang dikerjakan oleh Mamaku. Aku dan adik-adikku selalu kompak membela Mama. Termasuk saat bercerai dengan Papa. Padahal sebab perceraian kedua orangtuaku itu adalah jelas-jelas karena kesalahan Mama. Papa menangkap basah Mama sedang pesta sex dengan tiga orang gigolo muda di hotel!

Meski begitu, aku dan adik-adikku tetap aja kompak membela Mama. Soalnya belain Papa juga enggak ada untungnya. Lagian kelakuanku dan adik-adikku juga enggak beda-beda amat sama Mama. Aku dan Toni pernah bawa perek ke rumah. Si Mimi tahu tentang hal itu dan dia sih santai-santai aja. Soalnya dia juga sering bawa cowok ganteng ke kamarnya.

Setelah bercerai, rumah kami yang megah jadi seperti rumah bordil aja deh. Mama, aku, Mimi, dan Toni, rutin bawa partner sex kemari. Karena kami sama gilanya, jadi asyik. Kalau waktu ada Papa enggak asyik. Papa suka rese. Meski tak bisa memarahi kelakukan binal anak-anaknya, tapi Papa suka ngomel atau ngasih nasehat. Huh, menyebalkan aja Papaku itu.

Dari banyak cowok, si Willy yang paling sering dibawa Mama ke rumah. Dia tuh, kayak suami baru Mama aja jadinya. Hampir tiap hari dia ada di rumah. Paling kalau Mama lagi bosen dan ingin cari variasi pasangan lain, barulah dia ngibrit dari rumahku, balik ke kostnya.

Karena seringnya si Willy di rumah, aku dan adik-adikku jadi akrab dengan dia. Apalagi usianya enggak jauh dariku. Dia juga masih kuliah. Umurnya hanya lebih tua dua tahun dariku. Obrolan kami nyambung. Tentang apa saja. Otomotif, sport, musik, dan pasti ngesex. Hehe. Bisa dibilang, si Willy ini piaraan Mama. Segala biaya hidupnya, Mamaku yang nanggung.

Si Mimi paling senang dengan keberadaan Willy di rumah. Piaraan Mama itu dimanfaatinnya juga buat muasin nafsunya yang binal.

“Habisnya si Willy itu ganteng banget sih. Macho. Mana bodinya oke banget lagi. Belum lagi kontolnya. Gede banget Tom. Ngesexnya gila-gilaan. Pantes aja Mama paling demen ama dia dibandingin ama gigolonya yang lain,” kata Mimi padaku suatu hari. Dasar nakal. Dasar maniak tuh si Mimi.

Mendengar cerita si Mimi tentang kontolnya si Willy membuatku penasaran juga. Eits. Jangan salah sangka dulu men. Aku bukan gay. Jelas-jelas aku cowok straight. Cuman, dengar ukuran kontol orang sampai 28 sentimeter kan jelas bikin penasaran. Jangankan aku, cowok lain pasti juga penasaran. Gila aja kontol bisa segede itu!

Selama ini kupikir kontolku sudah paling gede. Panjangnya sekitar delapan belas senti. Susah-susah lho, cari kontol sepanjang punyaku ini di Indonesia. Ternyata punya si Willy malah lebih gila. sampai 28 senti men, selisih sepuluh senti dari punyaku. Ambil penggarisan deh, liat dari titik 0 senti sampai 28 senti, panjang banget kan ukuran segitu.

Meski penasaran, enggak mungkin kan aku permisi ke dia buat liat kontolnya. Gila aja. enggak usah ya. Pernah kepikiran buatku untuk ngintip dia saat ngentot dengan Mamaku atau si Mimi. Tapi males ah. Ngapain juga ngeliat saudara kandung sendiri ngentot. enggak ada seru-serunya. Entar aku jadi incest lagi. Bikin berabe aja.

Namun, yang namanya rezeki memang enggak kemana. Waktu itu malem hari. Hampir dini hari malah. Aku baru pulang. Biasalah, ngabis-ngabisin duit Mama. Semua orang sudah tidur kayaknya. Kerongkonganku rasanya kering banget. Haus. Aku langsung ke dapur, ingin ngambil minuman dari lemari es.

Pas aku nyampe di dapur aku terkesima. Kulihat Mama sedang berbaring telentang di atas meja makan kami. Pakaian atasannya terbuka memamerkan buah dadanya yang masih kencang dan besar. Sementara bagian bawah tubuhnya tak menggenakan penutup apa-apa. Sekitar memeknya yang penuh jembut lebat kulihat belepotan cairan putih kental sampai ke perutnya. Banyak banget. Mama tak sadar dengan kehadiranku, karena saat itu ia sedang memejamkan matanya sambil mendesah-desah.

“Ngg.. Enak banget Will,” katanya dengan suara mendesis. Rupanya dia baru aja dientot sama si Willy di atas meja makan itu.

Aku segera mengalihkan tatapanku dari tubuh Mamaku yang mengangkang itu. Entah kenapa, kok aku rasakan aku kayaknya terangsang. Bisa berabe nih. Pandanganku kualihkan ke lemari es. Saat menatap ke arah sana aku kembali kaget. Disana berdiri si Willy. Dia tak menggenakan pakaian apapun menutupi tubuhnya. Badannya yang tinggi dan kekar berotot itu polos. Dia sedang menenggak coca cola dari botol.

Mataku langsung menatap ke arah kontolnya. Gila men. Si Mimi enggak bohong. Di selangkangannya kulihat sebatang kontol dengan ukuran luar biasa. Sedang mengacung tegak ke atas mengkilap karena belepotan spermanya sendiri kayaknya. Batangnya gemuk, segemuk botol coca cola yang sedang dipegangnya. Panjang banget. Kepala kontolnya yang kemerahan seperti jamur melewati pusarnya. Batang gemuk itu penuh urat-urat. Aku sampai melotot melihatnya. Kupandangi kontol itu dengan teliti. Ck.. Ck.. Ck.. Sadis.

“Baru pulang Tom?” kata Willy menegurku.

Ia sudah menyadari kehadiranku rupanya. Aku segera menolehkan pandanganku dari kontolnya. Gawat kalau ia tahu aku sedang serius mengamati detil kontolnya itu.

“He eh. Iya,” sahutku sambil mengangguk.

Untung saja lampu di dapur itu bernyala redup. kalau terang benderang, pasti Willy bisa mengetahui kalau wajahku sedang bersemu merah saat itu. Malu.

Mamaku yang sedang berbaring lemas diatas meja makan tiba-tiba melompat bangun. Ia sibuk mencari-cari roknya untuk menutupi bagian bawah tubuhnya yang terbuka.

“Eh, Tomi. sudah lama kau datang?” kata Mama dengan ekspresi malu.
“Baru aja ma,” sahutku.

Aku beraksi seperti tidak terjadi apa-apa disitu. Segera kuambil minuman dingin dari lemari es. Tubuh Willy yang berkeringat tepat disampingku. Saat mataku melirik ke arah dalam lemari es, mencari minuman, kusempatkan untuk melirik sekali lagi ke arah batang kontol Willy. Kali ini aku bisa melihatnya lebih jelas. Karena ada bantuan penerangan dari lampu lemari es. Gila! Bagus banget bentuk kontolnya, pikirku.

Setelah mendpatkan minuman dingin, aku segera meninggalkan dapur. Tinggallah Mamaku dan Willy disana. Aku tak tahu apakah mereka masih melanjutkan lagi permainan cabul mereka atau tidak. Yang pasti sepanjang jalan menuju kamarku, pikiranku dipenuhi dengan kontol si Willy yang luar biasa itu.

“Gila! Gila!” rutukku dalam hati.

Kok aku bisa mikirin kontol punya cowok lain sih? Ada apa denganku ini? Rasanya malam itu aku susah untuk tidur. Setelah membalik-balikkan badan beratus kali di atas ranjangku yang empuk, barulah aku bisa tertidur. Itupun setelah jarum jam menunjukkan pukul empat pagi. Sebentar lagi pagi menjelang.

Berjumpa dengan Willy keesokan harinya aku jadi rada-rada grogi. Entah kenapa. Mataku jadi suka mencuri pandang ke arah selangkangannya. Aku jadi menyadari, kalau ternyata saat selangkangannya ditutupi celana seperti itu, ukuran tonjolan diselangkangan itu, memang beda dengan punyaku. Jauh lebih menonjol kayaknya. Gila! Gila! Rutukku lagi dalam hati. Kok aku jadi mikirin itu aja sih?!

Si Willy sih enggak ada perubahan. Ia tetap cuek aja seperti biasanya. Ia tak merasa ada yang aneh dengan kejadian semalam. Sepertinya ia tak perduli kalao aku memergokinya telanjang bulat bersama Mamaku. Kayaknya, buatnya itu hal yang lumrah saja. Dasar gigolo profesional dia.

Sebulan berlalu. Dan selama rentang waktu itu, aku jadi pengamat selangkangan Willy jadinya. Entah kenapa, aku selalu berharap akan punya kesempatan lagi untuk ngelihat perkakas gigolo itu. Tapi tak juga pernah kesampaian. Sampai suatu hari.
Aku ingin berenang pagi-pagi di kolam renang yang ada di halaman belakang rumahku. Ketika aku sampai di kolam renang mataku langsung menangkap sebuah tontonan cabul. Si Mimi sedang ngentot dengan Willy. Dasar nekat si Mimi. Padahal Mama kan masih ada di kamarnya pagi-pagi begini.

Adikku yang cantik dan sexy itu sedang nungging di tepi kolam renang. Dibelakangnya Willy asyik menggenjot kontolnya dalam lobang vagina adikku itu. Genjotannya liar dan keras. Menghentak-hentak. Tubuh si Mimi sampai terdorong-dorong ke depan karena hentakan itu. Kelihatannya si Mimi keenakan banget. Bibir bawahnya digigit-gigitnya dengan giginya. Ia menggelinjang-gelinjang sambil merem melek menikmati hajaran kontol Willy yang luar biasa itu di memeknya.

Aku terangsang hebat. Celana renang segitiga yang kukenakan, tak lagi bisa menampung kontolku yang membengkak. Aku tak tahu. Aku terangsang karena apa? Apakah karena melihat persetubuhan mereka, atau karena serius mengamati kontol besar Willy yang keluar masuk vagina si Mimi itu. Entahlah.

Tanganku langsung mengocok batang kontolku yang sudah kukeluarkan dari celana renangku. Kukocok sekuat tenaga. Cepat. Aku ingin segera menumpahkan spermaku.

“Eh, Tom. Ngapain luh?” tiba-tiba kudengar suara Mimi menegurku.

Mataku yang sedang merem melek langsung menatapnya. Kulihat ia menolehkan wajahnya yang cantik memandangku yang sedang berdiri mengangang sambil ngocok. Willy tersenyum memandangku. Mereka tak menghentikan permainan mereka.

“memang lo enggak bisa liat, gue lagi ngapain,” jawabku cuek. Willy tertawa kecil mendengar jawabanku.
“Gila lo,” kata Mimi. Setelah itu ia kembali asyik menikmati genjotan Willy.

Akhirnya akupun orgasme sambil memandangi Mimi dan Willy yang terus bercinta. Tak lama setelah itu si Willy yang orgasme di mulut Mimi. Sebelum spermanya sempat mencelat dari lobang kencingnya, Willy menyempatkan menyabut kontolnya yang gemuk dan panjang itu dari vagina Mimi. Lalu disuruhnya Mimi membuka mulutnya lebar-lebar menyambut tumpahan sperma Willy yang deras. Aku benar-benar terbius birahi melihat detik-detik Willy menumpahkan spermanya di mulut adikku itu. Entah kenapa nafsuku terasa menggelegak melihat kontol itu menyemburkan spermanya yang deras berulang-ulang. Kupelototi setiap detik orgasme Willy itu tanpa berkedip sama sekali. Aku tak ingin kehilangan momen yang indah itu sedetikpun.

“Gila lo. Adik sendiri ngentot ditonton,” kata Mimi padaku.

Saat itu kami bertiga berbaring di tepi kolam renang kelelahan. Kalau orang melihat kami saat itu, mereka tidak mengetahui kalau kami baru saja orgasme tadi. Yang melihat pasti hanya mengira kami sedang berjemur menikmati cahaya matahari di tepi kolam renang.

“Habisnya elo berdua sama gilanya sih. Masak pagi-pagi ngentot disini. Ketahuan Mama gimana?” sahutku.
“Cuek. Mama enggak bakalan bangun. Sebelum ngentotin gua, Mama habis dihajar sama si Willy. Jadi Mama pasti sedang ngorok kecapaian,” jawab Mimi yakin.
“Benar Wil?” tanyaku.
“Yap,” sahut Willy singkat.

Dasar si Willy. Habis ngentot dengan Mama, masih sanggup ngentoti si Mimi sebinal tadi. Benar-benar profesional nih cowok, pikirku. Itu pengalaman keduaku melihat kontol si Willy.


read more

Thursday, July 24, 2014

Nikmatnya Bercinta Di Malam Pertama | Cerita Seks Dewasa

Thursday, July 24, 2014 1 comments

 agen judi poker dan domino online terpercaya di indonesia

Cerita Seks Dewasa - Bila sebut sahaja malam pertama, pasti kalian semua akan membayangkan dua mempelai yang asyik merayakan diri sebagai "Raja Sehari". Setelah penat melayat sanak dan saudara di siang hari, maka saat yang ditunggu-tunggu untuk merasai kenikmatan malam pertama pasti dinantikan. Namun apa yang ingin aku kongsikan bersama pembaca-pembaca sekalian bukanlah kenikmatan bersama isteriku melayan ranjang di malam pengantin tetapi kisah sewaktu aku menghadiri majlis perkahwinan bapa saudaraku iaitu Adik kepada papaku..

*****

Setelah semua barang siap dikemas, maka kami sekeluarga pun bertolak ke rumah Adik papaku yang berada di Kota Tinggi. Perjalanan yang memakan masa hampir dua jam, membuatkan aku lebih selesa tidur di bangku belakang dari melayan Adik dan Mamaku yang dari tadi asyik berceloteh. Kenderaan yang lalu agak berkurangan kerana cahaya matahari baru sahaja hendak membuka matanya menyinari bumi. Sememang hari cuti begini, orang lebih suka berehat di rumah dari memenatkan badan melayan suasana luar yang riuh dengan drama masing-masing.

Sampai sahaja di perkarangan rumah aku lihat ramai sanak dan saudara yang sudah sampai membanjiri ruang laman rumah bapa sandaraku. Begitu juga dengan jiran-jiran tetangga, sibuk memerah keringat membantu menjayakan majlis pada hari ini. Melihat wajah ceria Abang Zamri yang akan menamatkan zaman bujang begitu sibuk menyeliakan diri untuk persiapan persandingannya.

Tepat jam 2.30 petang, kedengaran pukulan kompang bergema memecah keriuhan di rumah pengantin. Dua mempelai seperti "Pinang di belah dua" sama padan dan sama cantik beriringan naik ke pelamin. Dengan baju songket berwarna merah hati dan pelamin putih ke kemerah-merahan, menonjolkan diri Abang Azman dan Kak Rita sebagai "Raja Sehari". Setelah puas bertepung tawar dan bergambar kenangan diambil, maka kedua pengantin mula melayan jiran-jiran, sanak saudara dan sahabat handai yang hadir mengucapkan tahniah di atas pembinaan masjid yang baru dibina ini.

Semakin petang, tetamu semakin ramai yang pulang dan aku juga sibuk mengemaskan balik barang-barang yang telah selesai digunakan. Sedang asyik aku mengemas, tiba-tiba bahuku ditepuk dari belakang.

"Abang Zack rajinnya, sampai kita pun dia tak perasan" sergah sepupuku dari belakang.
"Eh! Reen, bila sampai? Tak nampak pun tadi" jelasku dengan nada terperanjat.
"Yelah, orang sudah lupa kita, orang bandarlah katakan".
"Macamana nak kenal, dulu bulat tapi sekarang.. Sudah macam Siti Norhaliza".
"Abang Zack, mak suruh pegi hantar barang ni kat rumah Pak Lang," suaranya yang manja membuatkan aku cair bila mendengarnya.
"Kita naik motor jelah Bang, jalan sibuk lagi ni." Jelasku bila melihat kereta yang masih lagi bersusun menyukarkan aku untuk mengeluarkan kereta.
"Ok jugak, kita pun sudah lama tak berbual-bual" wajahnya cukup comel bila memberikan senyuman.

Aku sememangnya cukup mesra dengan sepupuku yang sorang ni, sejak dari kecil lagi kami membesar bersama. Malah aku rasa ia seperti adikku sendiri apabila kami keluar dan main bersama-sama sewaktu aku di kampung dahulu. Melihat wajah dan susuk tubuh Mazreen sekarang, terpaku seketika aku. Jika dahulu dengan tubuhnya yang bulat dan pipinya yang tembam, sering menjadi bahan gelakkan kami jika keluar bersama.

Kami sering menjadi tumpuan orang ramai jika keluar makan bersama, orang lain makan sepinggan, tahu-tahu sudah habis tiga pinggan nasi di depanku ditelan oleh Reen. Tapi kini wajah yang comel itu bagaikan hilang dari sanubariku. Berdiri di depanku kini seorang gadis yang cukup ayu dan menghairahkan, mempunyai kulit kuning langsat, muka bujur sirih, berambut panjang dan yang paling aku tidak tahan apabila melihat payudaranya yang mendongak naik walaupun berbadan ramping. Punggungnya jangan ceritalah, walaupun berbaju kebaya tetapi menampakkan kepejalan yang membulat di kainnya. Aku tidak menjangka perubahan yang mendadak terhadap dirinya.

Perjalanan menuju ke rumah Pak Lang tidaklah jauh sangat tetapi terpaksa melalui jalan yang agak sunyi kerana disekelilingnya hanya dipenuhi dengan pokok-pokok getah yang merimbun. Aku mencapai motor Abang Zamri dan terus membonceng Reen menuju ke rumah Pak Lang. Sambil rancak bercerita kisah masing-masing, aku merasakan pegangan tangan Reen di pinggangku merayap ke hadapan. Pelahan-pelahan tangannya mengusap pehaku. Aku yang memakai seluar yang berkain nipis terasa geseran tangan menyentuh segala urat saraf nafsuku. Adik kecilku mula mengembang bila terasa sentuhan demi sentuhan.

"Wah! Bang, begitu besar sekarang anu Abang ni" sambil tangannya mulai mencari tiang tombakku yang dari tadi sudah berdenyut-denyut menahan kegelian dan kesedapan bila diusap-usap.
"Siapa yang jaganya, baja cukup," luahanku antara percaya tidak percaya apa yang berlaku sekarang.

Aku semakin gelisah bila jari-jemarinya mula mengosok-gosok batangku turun dan naik. Aku melihat muka Reen selamba je bila memain-mainkan batangku, aku pula yang rasa seram sejuk bila diperlakukan sedemikian. Jalan yang lurus bagaikan bengkang-bengkok kulalui. Perhatianku terhadap pemanduan sedikit terganggu akibat tindakan berani Reen.

Teringat aku semasa zaman kanak-kanak dahulu, aku sering dijadikan pasangan pengantin bersama Reen kerana budak-budak lain tidak mahu menjadi pasangannya. Aku sering mencium pipinya yang tembam dan kadang-kadang ia melihat aku mandi bogel ketika di sungai bersama rakan-rakan yang lain. Waktu itu apa yang kami fikirkan hanyalah keseronokan dan tidak pandai lagi menilai apa itu seks. Jika dulu tiada perasaan malu untuk menayangkan badan masing-masing dan kadang-kadang aku dan Reen sama-sama mandi bogel di telaga batu belakang rumahnya.

Namun kini kami telah meningkat dewasa dan masing-masing sudah tahu apa itu sentuhan kenikmatan. Aku sememang menunggu peluang yang tidak pernah aku impikan ini. Masuk ke kawasan perkampungan rumah Pak Lang, Aku menarik tangan Reen dari terus memainkan batangku yang masih belum turun-turun sejak tadi kerana aku lihat ada mata yang memerhatikan gelagat kami bila sewaktu melalui kawasan perkampungan ini. Setelah lama dimainkan batangku, aku dapat rasakan ada sedikit cairan membasahi seluarku. Namun tidak menampakan kebasahan di seluarku.

"Sabarlah sikit kalau nak pun, malam masih ada" aku menarik nafas kelegaan kerana sejak tadi resah memikirkan tindakan berani dari sepupuku ini.
"Abang janji ye, malam ini jumpa Reen" melihat wajahnya begitu bersungguh-sungguh.
"Betul ke ni, macam tak caya je" soalku bagaikan terasa seperti bermimpi.
"Itu pun kalau Abang sudi lagi kat budak gemuk ni".
"Ikan sudah depan mata, takkan kucing nak menolak" aku cepat-cepat mencelah takut merajuk pulak budak ni, melepas aku.

Abang Zamri macam tak sabar menunggu malam larut, baru pukul 10.00 malam sudah tak nampak kelibatnya. Aku pun apa kurangnya, kalau Abang Zamri dapat menikmati malam pertama dengan isterinya dan aku pula akan menikmati malam pertamaku dengan Reen yang tak sabar menunggu malam. Bilik yang Reen tumpang kebetulan bersebelahan dengan bilik pengantin, nampaknya malam ni ada dua pasangan yang akan menikmati malam pertama. Aku melihat jam sudah hampir pukul 12 malam dan ramai yang sudah tumbang kerana kepenatan dan ada yang tidur awal kerana keesokkan hari hendak pulang ke rumah kediaman masing-masing.

Aku pun mula merangkak perlahan menuju ke bilik yang Reen tumpangi, kebetulan hanya Reen sahaja yang masih menumpang di bilik itu kerana yang lain sudah pulang ke rumah masing-masing. Aku lihat Reen hanya mengenakan baju tidur yang cukup nipis menampakan seluruh bentuk badannya. Aku melabuhkan badanku disisinya dan tanganku mengejut perlahan tubuhnya agar ia tidak peranjat dengan kehadiranku.

"Reen.. Reen.. Abang datang ni, bangunlah." Aku membisik manja ketelinganya.
"Kenapa lambat?, sampai tertidur Reen tunggu Abang." Tangannya mencubit lembut pipiku dan terukir senyuman di wajahnya.
"Orang masih belum tidur.. Nanti perasaan pulak kehilangan Abang." Jawapku sambil membelai rambutnya.

Aku sudah tidak sanggup lagi menunggu lama kerana nafsu kelakianku sudah sampai kemuncak bila melihat payudaranya yang tidak berlapik itu mekar membukit di sabalik baju tidurnya itu. Aku mula mencium lembut dahinya, matanya, pipinya dan kini mulutku mula bersatu dengan bibir lembutnya yang terasa begitu asyik bila menyedutnya. Reen hanya mampu memejamkan matanya menahan kenikmatan yang dinantikannya sejak siang tadi lagi. Nafasnya kian lemas bila aku menjilat cuping telinga dan memain-mainkan lidahku dilubang telinga kirinya yang menjadi rahsia kelemahan wanita.

"Abang.. Reen benar-benar rindu dengan belaian Abang, dari dulu lagi Abang aje yang sudi berkawan dengan Reen."
"Abang pun tak sangka kita boleh berjumpa lagi.. Dan yang paling Abang tak sangka bila lihat Reen sekarang.. Kecantikkan yang benar-benar asli yang pernah Abang jumpa."

Aku meneruskan penerokaanku, perlahan-lahan aku membuka baju tidurnya. Reen cuba menarik selimut menutup tubuhnya yang sudah bogel tanpa seurat benang pun, mungkin malu kerana ini kali pertama aku menatap tubuhnya bila dewasa. Namun selimutnya hanya sementara menutupi tubuhnya. Melihatkan payudaranya yang tersergam indah, aku terus meramas kedua-duanya seperti Mamak menguli tepung untuk membuat roti canai. Mulutku bersatu kembali dengan mulutnya dan erangan-erangan kecil dari Reen memecahkan kesunyian malam. Aku rasa, Abang Zamri dan isterinya pun asyik melayan bahtera yang baru dibina itu. Malam ini kami sama-sama menikmati malam pertama.

"Arghh.. Urghh.. Gelilah Bang" kelihatan wajahnya masih malu-malu bila kumenatapi tubuhnya.

Keluhan nafasnya turun dan naik bila aku memainkan lidahku ku putingnya yang sudah mengeras itu. Aku sedut putingnya seperti anak kecil yang kehausan dan kadang-kadang ku gigit manja puting payudaranya. Sementara meramas dan menyedut payudaranya, tanganku terus mencari lubuk keindahan yang dimiliki oleh Reen. Jariku dapat merasai kelapangan lalang-lalang yang tumbuh di sebalik cipapnya. Mungkin Reen baru lepas mencukurnya sebab orang tua pernah pesan untuk kebaikan dan kebersihan agar cipapnya sentiasa sihat selalu. Aku pun tak tahu apa yang sihat, yang aku tahu batangku yang sihat membesar di sebalik cipapnya. Aku dapat merasai cairan kelembapan mengalir di sebalik cipapnya.

"Abang, kita buat posisi 69 ye Bang." Luahan Reen sambil menanggalkan baju dan seluarku dan aku turut membantu menanggalkannya.
"Urghh.. Sedapnya, lagi dalam Reen" terasa kenikmatan bila ia memasukkan batangku ke dalam mulutnya.
"Panjang sangatlah batang Abang ni, tak muat mulut Reen" tangannya terus meramas-ramas biji telorku.

Aku pula terus mengelak bibir cipapnya yang sudah naik lecak terkena limbahan air lavanya. Aku lihat tembam juga cipap sepupuku ini dan biji kelentitnya sedikit terkeluar. Aku terus menjilat biji kelentitnya dan jariku mengorek-gorek lubang cipapnya. Terangkat-rangkat punggungnya menahan kegelian dan kesedapan hingga terlepas batangku dari mulutnya.

"Bang cepatlah masuk, Reen sudah tak tahan ni," tangannya terus menarik batangku ke arah cipapnya.
"Sabarlah sikit, Abang belum puas lagi menikmati keenakkan madu segar ni."
"Cepatlah Bang, Reen sudah dua kali klimak ni" terus ia menyandarkan badannya ke sisi katil.

Aku pun menggangkangkan sedikit pehanya agar memudahkan pelayaranku bermula. Aku halakan kepala takukku di lubangnya.

"Wah.. Sedat juga cipap budak ni".

Namun aku tolakkannya perlahan-lahan agar kehangatan batangku dapat dirasai sepenuhnya. Bebekalkan cairan air hangatnya, agak mudah untuk aku menembusi tembok besar China ini. Namun sangkaanku meleset bila jeritannya membuat aku teperanjat.

"Aduhh.. Bang.. Pelan sikit sakit" lelehan air matanya membasahi pipi.
"Zamm! Jangan ganas sangat.. Tak lari gunung di kejar" terdengar suara mak Abang Zamri.
"Maaf Reen, Abang ingat Reen sudah pernah kena.." apa yang kusangkakan terhadap Reen rupanya salah, ia masih mempunyai dara lagi.
"Apaa.! Abang ingat Reen anak ayam, boleh diambil sesuka hati" wajahnya sedikit marah atas kelantangan mulutku yang takde insuran ni.
"Nasib baik orang ingat isteri Abang Zamri yang menjerit" aku membisikkan pelahan ke telinganya.

Namun suasana kembali sunyi bila aku meneruskan pelayaran kembali, aku lihat ada lelehan merah mengalir keluar bila aku menusuk masuk habis batangku ke dalam cipapnya. Kehangatan air hangatnya membuat aku semakin laju menongkah arus kehangatan malam ini. Ahkirnya kenikmatan yang dinantikan membuathan hasil bila renggekan kesedapan terpancar di wajah Reen. Perlahan-lahan kutolak dan kulajukan sedikit tarikanku agar kami sama-sama merasai kenikmatan yang diinginkan.

"Ehmm.. Urhh.. Sedapnya Bang, laju lagi Bang" bergoyang-goyang payudaranya mengikut rentak pelayaranku.

Setelah puas dengan berada di atas kini giliranku pula di bawah, menanti dan menerima hentakan demi hentakan dari Reen. Semakin lama semakin mahir Reen menongkat arus, sampan yang dikemudi terasa hampir karam dipertengahan jalan namun aku terus menahan dengutan-denyutan kenikmatan dari batangku yang tersepit dari kemutan demi kemutan yang sukar untuk kulepaskan.

Yang pendek telah kupanjangkan, yang rendah telah kutinggikan, hutan tebal telah kuredahi, lautan dalam telah kuterokai, langit biru hampir kucapai, kini hanya menanti garis penamat untuk selesaikan pelarianku. Setelah hampir 2 jam kami menghabiskan detik kenikmatan malam pertama ini setelah lama berpisah, kini aku sudah basah keletihan.

"Arghh.. Reen, Abang sudah nak terpancut ni" terasa begitu keras batangku menegang.
"Abang pancut dalam sahaja agar kita sama-sama merasai kenikmatannya.." mulutnya terus memainkan payudara kecilku.
"Arghh.. Urhh.. Sedapnya" tembak demi tembakan kulepaskan ke dalam lubang vaginanya.

Reen memeluk erat badanku dan aku hanya membiarkan batang dilubuk kenikmatannya sehingga batangku mengecil. Lelehan demi lelehan keluar dari cipapnya melecakkan badanku. Kehangatan cairannya memberikan kepuasan yang benar-benar kurasai pada malam ini yang turut dikongsi bersama dengan Abang Zamri. Aku terdampar kelesuan di dalam pelukan Reen.

"Reen.. Kenapa mesti menyerahkan mahkota kesucian Reen kepada Abang?".
"Reen anggap Abang dan macam suami Reen sejak kita menjadi pengantin dari kecil lagi, salahkah Reen memberi kepada orang yang banyak berbudi pada Reen sejak kecil lagi?"

Aku tidak dapat memberikan jawapan atas persoalannya tetapi kenikmatan yang kuberikan pada malam ini kepadanya dapatlah diterima dengan seribu kepuasan yang dikorbankan padaku pada malam ini. Aku terus mencium dahinya dan kami bertarung lagi buat kali kedua pada malam itu kerana esok aku akan kembali semula ke kota dan biarlah kenangan yang kami bina ini akan berpanjangan kerana kesibukan diri masing-masing menyukarkan untuk kami bertemu. Semoga ada sinar buat kami pada hari esok
read more

Wednesday, July 23, 2014

Nikmatnya Bercinta Dengan Mirna Dan Adiknya | Cerita Seks Dewasa

Wednesday, July 23, 2014 1 comments

 agen judi poker dan domino online terpercaya di indonesia

Cerita Seks Dewasa - Waktu itu sudah malam, sekitar pukul 9. Saya dan Mirna baru saja menyelesaikan babak ketiga pertandingan antar jenis kelamin kami yang sudah sekian kali kami lakukan. Kami ada di rumah Mirna, suami Mirna, Andre, sedang tidak berada di rumah, dia pergi tugas luar kota lagi. Sementara istri saya ada di rumah, saya punya banyak alasan kalau dia bertanya macam-macam.

"Mas Vito, aku kok kayaknya nggak pernah bosen ya 'ngewe' sama kamu.." kata Mirna.
"Lha, memangnya kalo sama Andre, bosen..? Kan dia suamimu," jawab saya agak gr.
"Bukannya gitu. Kalo sama Mas Andre gayanya itu-itu saja, dan lagi kontolnya Mas Andre kan nggak sebesar punya Mas Vito," jawab Mirna jujur sambil mengurut batang kemaluan saya yang kembali mengeras.
"Ndak boleh gitu lho Mir. Andre itu kan suamimu, dia baik lagi. Tapi, masa bodo lah, yang penting memek istrinya enak banget. Ya sudah 'ngentot' lagi yuk, mana toketmu, sini, aku mau 'nenen'..!"

Ketika kami mau mulai babak keempat, Vina, anak Mirna yang jadi sering melihat maminya di 'acak-acak', masuk ke kamar.
"Mi, masih main kuda-kudaan ya..? " tanyanya polos.
"Iya, baru mau main lagi, kenapa Vin..? kata Mirna.
"Vina mau bobo, tapi Vina takut, temenin Vina ya Mi, Om Vito main kuda-kudaanya di kamar Vina aja ya..!" pintanya penuh harap.
Ya sudah, akhirnya saya dan Mirna pindah arena ke kamarnya Vina. Sambil masih bertelanjang bulat, kami berusaha menina-bobokan Vina yang katanya tidak kangen sama papinya, dia malah menganggap saya papi kandungnya.

Baru sekitar 10 menit si Vina tertidur dan 3 menit si Mirna menghisap batang kemaluan saya, telephone di kamar Mirna berdering.
"Mas, aku ngangkat telephone dulu ya, kali aja dari Mas Andre." kata Mirna.
"Ya, jangan lama-lama.." jawab saya.

Setelah hampir 5 menit, Mirna balik lagi ke kamar dengan wajah bingung.
"Mas, adikku mau kesini. Dia sudah ada di depan komplek. Gimana nih..?" kata Mirna.
"Siapa..? Si Rere..? Dia bareng suaminya nggak..?" tanya saya berusaha tidak panik.
"Nggak sih, kan dia lagi pisah ranjang sama Gery. Sudah 4 bulan ini." jawab Mirna.
"Ya sudah, kalo dia kesini, ndak apa-apa. Bilang aja aku lagi nemenin kalian. Apa susahnya sih?"

Tidak lama kemudian Rere datang. Dia adalah wanita cantik berusia sekitar 25 tahun, dengan ukuran dada sekitar 34B (hampir sama dengan kakaknya), kulit putih bersih dan hidung yang bangir. Malam itu dia mengenakan 'Tank Top' warna biru ditutup dengan Cardigan hitam dan celana Capri (ketat, sedengkul) warna putih.

"Malam Mbak, Eh.., ada siapa nih..?" kata Rere.
"Ini Mas Vito, tetanggaku. Dia datang kesini mau nemuin Mas Andre, tapi nggak ketemu." Mirna menjawab.
"O iya, kenalin Mas, ini adikku, Rere. Re, ini namanya Mas Vito."
"Rere," katanya sambil bersalaman dengan saya.
"Vito," jawab saya.
"Kamu kenapa kesini..?" kata Mirna, "Tumben-tumbenan, mana malem-malem lagi. Kamu nggak takut apa? Daerah sini rawan pemerkosaan lho..!"

Si Rere menjawab sambil melepas Cardigan-nya dan memamerkan keindahan buah dadanya, yang dapat membuat laki-laki sesak nafas itu, katanya, "Ngapain takut, kalo diperkosa malah seneng. Aku sudah hampir 5 bulan lho Mbak, nggak 'gituan'..!"
"Kamu ini kalo ngomong sembarangan," kata Mirna sambil melirikku, "Kasian Mas Vito tuh, lagi tanggung, nanti dia ngocok disini lagi."
"Tanggung..? Emangnya kalian lagi ngapain..? Wah, macem-macem nih kayaknya..!" tanya Rere penasaran.
Si Mirna menjawab, "Kenapa emangnya..? Mau ikut nimbrung..? Suntikannya Mas Vito besar lho..!"

Saya dari tadi hanya diam dan tersenyum mendengar 'adik' saya dibicarakan dua wanita cantik.
Lalu saya angkat bicara, "Kamu ini ngomong apa sih Mir..? Emangnya kamu sudah pernah liat burungku apa..?" kata saya menggoda.
"Iya nih, Mbak Mirna. Emang udah pernah liat..?" kata Rere.
"Wah, jangan macam-macam deh Mas, mendingan kita lanjutin pertandingan tadi. Kamu mau ikutan nggak Re..?" ajak Mirna sambil kembali melepas dasternya dan melucuti celana pendek saya.
Melihat hal ini, Rere memekik pelan, "Wah, itu kontol..? Gede banget, boleh nyobain ya Mas..?"
"Ya sudah, kamu hisap-hisap ya Re..!" kata saya, "Nah, Mir kesinikan memekmu biar kujilatin..!"

Lalu kami bertiga bermain dengan riang gembira. Saya duduk di sofa, sementara Rere jongkok dan sibuk dengan batang kemaluan saya. Mirna berdiri menghadap saya sambil mengarahkan kepala saya ke liang vaginanya dan menjilatinya sampai kelojotan. Saya tidak sadar waktu Mirna agak bergeser, ternyata Rere sudah tidak mengenakan apa-apa lagi, polos, telanjang bulat dan berusaha menjepit penis saya dengan kedua buah dadanya yang ternyata memang besar dan membuat gerakan naik turun.
"Ya, terus Re, enak banget..!" kata saya, sementara Mirna sudah duduk di sebelah kiri saya sambil mengulum bibir saya.
"Mas Vito, aku mau masukin ke memek ya..!" pinta Rere penuh harap.

Ketika melihat dan mengamati kemaluan Rere, saya agak kaget. Selain botak, vagina Rere juga masih terlihat sempit. Dalam hati saya berpikir, ini kakak beradik punya kemaluan kok ya sama. Lalu Rere membelakangi saya dan memasukkan batang kemaluan saya ke dalam vaginanya yang sempit itu dengan perlahan-lahan. Mirna yang juga sedikit terengah-engah memasukkan jari saya ke dalam liang kemaluannya yang mulai basah.

Rere benar-benar memperlakukan batang kemaluan saya dengan baik. Gerakan maju mundurnya sangat hebat dan terkadang dikombinasi dengan gerakan berputar. Menyikapi hal ini, saya lalu mengangkat badan Rere dan saya balikkan, hingga kami beradu pandang, dengan posisi penis saya tetap di dalam vaginanya yang keset-keset basah. Rere ternyata sangat ahli dengan posisi duduk, dia terus naik turun berusaha mengimbangi hujaman-hujaman penis saya yang makin lama makin dalam menembus pertahanan liang vaginanya.

Setelah hampir 10 menit, Rere berkata, "Mas aku keluar..!"
Tapi herannya dia masih saja menggoyang pantatnya. Sementara itu, Mirna ada di belakang Rere sambil memeluk dan meremas buah dada Rere.

3 menit kemudian, giliran saya yang bilang, "Re, aku mau keluar nih, di dalam apa di luar..?"
"Di luar saja Mas, aku mau minum pejunya," jawab Rere semangat.
"Re, cepat lepas..!" kata saya sambil mengocok batang kemaluan saya dengan cepat dan mengarahkannya ke mulut Rere yang sekarang sudah jongkok di bawah saya.
Ternyata benar, mulut Rere tidak hanya menampung sperma saya yang banyak, tapi juga benar-benar berkumur dan menelannya.

Melihat hal itu, Mirna yang vaginanya tidak aktif, langsung mendekati batang kemaluan saya dan mengulumnya lagi.
Saya yang sudah banjir keringat langsung berkata kepada Mirna, "Mir, yang bersih ya, saya istirahat dulu sebentar."
Sambil Mirna terus disibukkan dengan pekerjaannya, saya menyuruh Rere mendekat dan langsung mengulum bibirnya yang tipis dan beraroma sperma.

Tidak lama kemudian, batang kemaluan saya mulai menegang lagi. Mengetahui perbuatannya berhasil, Mirna dengan tindakan super cepat menarik saya ke lantai dan menyuruh saya telentang. Mirna dengan cepat juga langsung menduduki penis saya dan menjepitnya dengan kemaluannya. Dengan posisi seperti itu, tangan saya diberi kesempatan untuk meremas payudara Mirna dan memainkan putingnya yang agak kecoklatan.

Setelah hampir 10 menit mengerjai batang kemaluan saya, gerakan Mirna mulai agak mengendur. Saya tahu, dia sudah orgasme. Melihat hal ini, saya membalikkan badan Mirna, dan sekarang dia yang telentang. Kedua kaki Mirna yang putih itu saya buka lebar-lebar sambil menusuk vaginanya dengan gerakan yang amat cepat dan teratur. Erangan dan desahan Mirna sudah tidak saya dengarkan sama sekali.

Sekitar 3 menit kemudian, saya sudah tidak dapat menahankannya lagi. Dengan posisi penis masih di dalam vagina Mirna, saya menyemprotkan cairan sperma saya untuk yang kedua kalinya malam ini. Liang senggama Mirna yang saya perhatikan beberapa hari ini sudah agak melebar, tidak kuat menampung cairan sperma saya yang kental dan banyak. Melihat hal itu, Rere langsung menjilati vagina kakaknya berusaha mendapatkan air mani lagi sambil tangannya mengocok penis saya.

Vina yang sudah tidur rupanya terbangun karena berisik.
"Mami, aku nggak bisa tidur, itu ada siapa..?"
"Eh Vina, ini Tante Rere. Kok kamu nggak tidur..?" tanya Rere sambil menyuruh Vina mendekat.
"Nggak bisa tidur Tante. Mami kenapa..? Kok kakinya terbuka, Mami sakit lagi ya..?" tanya Vina polos.
"Mami nggak sakit. Justru Mami malah sehat, kan Mami habis Om suntik, nanti sebentar lagi juga bangun." jelas saya.

"Kok Tante Rere telanjang juga? Habis disuntik juga ya sama Om Vito?"
"Iya, soalnya Tante lagi sakit memeknya jadi disuntik." kata Rere sambil mengelus vaginanya sendiri.
"Memek apa sih Tan..?" tanya Vina.
Sambil membersihkan kemaluan Mirna, saya berkata ke Vina, "Ini yang namanya memek Vin. Ini gunanya buat masukin jarum suntiknya Om Vito."
"Vina juga punya Om." kata Vina sambil menyingkap rok tidurnya.
"Iya, tapi punya Vina belom boleh disuntik. Nanti kalo sudah besar, boleh deh..!" kata Rere sambil tersenyum.

Selama seminggu Rere menginap di rumah Mirna, kami bertiga hampir tiap malam mengadakan acara begituan bersama. Vina yang selalu melihat aksi kami selalu tertawa kalau saya menyemprotkan sperma ke mulut mami dan tantenya.
"Ha.., ha.., ha.., Mami sama Tante Rere dipipisi Om Vito." katanya lucu.
Pernah sekali waktu, ketika istri saya sedang pergi, Rere main ke rumah dan minta disenggamai di lubang pantat. Karena menarik, saya lakukan saja dan ternyata itu enak sekali, seperti menjebol kemaluan perawan.

Sekali waktu, pernah juga salah seorang teman kantor saya main ke rumah ketika dua kakak beradik itu kebetulan sedang ada di rumah saya. Karena tertarik dengan Mirna, teman saya itu mengajak Mirna main di atas meja makan saya. Saya dan Rere hanya diam dan tertawa melihat teman saya menghajar kemaluan Mirna sampai Mirna mengalami multi orgasme.
read more

Tuesday, July 22, 2014

Benih Dari Bapak Mertuaku | Cerita Seks Dewasa

Tuesday, July 22, 2014 0 comments

 agen judi poker dan domino online terpercaya di indonesia

Cerita Seks Dewasa - Ini berawal saat ibunya sakit dan harus masuk rumah sakit dan Paul harus terbang ke luar kota untuk urusan bisnis yang amat penting. Paul tadinya tak setuju saat Emma meminta papanya, Jack, agar menginap di rumah mereka untuk sementara untuk menemaninya pergi ke rumah sakit, mengatakan padanya bagaimana hal itu akan mengganggu pikirannya karena dia adalah titik penting dalam negosiasi kali ini.

Dan pikiran yang sangat mengganggunya itu adalah karena dia curiga sudah sejak dulu papanya ada ‘perasaan lain’ pada Emma istrinya. Emma merasa sangat marah pada Paul, karena sangat egois dan dengan perasaan cemburunya itu. Bukan hanya kali ini Paul meragukan kesetiaannya terhadap perkawinan mereka dan kali ini dia merasa telah berada dalam puncaknya… dan dia tahu dia akan membuat Paul membayar sikapnya yang menjengkelkan itu.

Ketika itu terjadi, Jack tiba pada hari sebelum Paul terbang ke luar kota untuk bertemu kliennya. Dia tidak membiarkan kedatangan Jack mengganggu jadwalnya, meskipun dia akan membiarkan papanya bersama Emma tanpa dia dapat mengawasinya selama beberapa hari kedepan. Ini adalah segala yang Emma harapkan dan lebih, ketika dia menyambut Jack dengan secangkir teh yang menyenangkan…

Dia bisa katakan dari perhatian Jack yang ditunjukkannya pada kunjungan itu. Mata Jack berbinar saat dia tahu Paul akan pergi besok pagi-pagi benar, dan dia mendapatkan Emma sendirian dalam beberapa hari bersamanya. Emma sangat menarik, yang sungguhpun dia tahu sudah tidak punya kesempatan terhadap Emma, dia masih berpegang pada harapannya, dan berbuat yang terbaik untuk mengesankannya, dan menggodanya.

Emma tersanjung oleh perhatiannya, dan menjawab dengan mengundang bahwa mereka berdua dapat mulai untuk membiarkan harapan dan pemikiran yang telah dia kubur sebelumnya untuk mulai kembali ke garis depan itu.

Sudah terlambat untuk jam kunjungan rumah sakit sore itu, sehingga mereka akan kembali lagi esok paginya sekitar jam sebelas. Emma menuangkan beberapa gelas wine untuk mereka berdua sekembalinya dari rumah sakit petang itu.

“Aku harus pergi dan mandi… Aku kira aku tidak punya waktu pagi nanti”.

“Oh bisakah papa membiarkan showernya tetap hidup? Aku juga mau mandi jika papa tidak keberatan” Emma mau tak mau nati akan menyentuh dirinya di dalam shower, bayangan tangan Jack pada tubuhnya terlalu menggoda dan rasa marah terhadap suaminya sangat sukar untuk dienyahkan dari pikirannya.

Dia belum terlalu sering mengenakan jubah mandi sutera itu sebelumnya, tetapi memutuskan untuk memakainya malam ini. Hasrat hatinya mendorongnya untuk melakukannya untuk papa mertuanya, Paul bisa protes padanya jika dia ingin. Terlihat pas di pinggangnya dan dengan tali terikat, membuat dadanya tertekan sempurna. Itu nampak terlalu ‘intim’ saat dia menunjukkan kamar mandi di lantai atas. Emma meninggalkannya, dan kemudian kembali semenit kemudian.

“Aku menemukan salah satu jubah mandi Paul untuk papa” dia berkata tanpa berpikir saat dia membukakan pintu untuknya. Di dalam cahaya yang remang-remang Emma dapat melihat pantatnya yang atletis.

Mereka duduk bersama di atas sofa, melihat T.V. Dan setelah dua gelas wine lagi, Emma tahu dia akan mendorong ‘keinginan’ manapun yang Jack ingin lakukan. Dia sedikit lebih tinggi dari Paul, maka jubahnya hanya sampai setengah paha berototnya. Mau tak mau Emma meliriknya sekilas dan ingin melihat lebih jauh lagi. Dengan cara yang sama, Jack sulit percaya akan keberuntungannya untuk duduk disamping Emma yang berpakaian sangat menggoda dan benaknya mulai membayangkan lebih jauh lagi. Jack akan dikejutkan nantinya jika dia kemudian mengetahui hal sederhana apa yang akan membuat hasratnya semakin mengakar…

Besok adalah hari ulang tahun Emma, dan Paul lupa seperti biasanya, alasannya bahwa tidak ada waktu untuk lakukan apapun ketika dia sedang pergi, dan dia telah berjanji pada Emma kalau dia akan berusaha untuk mengajaknya untuk sebuah dinner yang manis ketika pulang. Kenyataannya bahwa Jack tidak hanya tidak melupakan, tetapi membawakannya sebuah hadiah yang menyenangkan seperti itu, menjadikan hatinya lebih hangat lagi. Dia seperti seorang anak perempuan kecil yang sedang membuka kotak, dan menarik sebuah kalung emas.

“Oh papa…papa seharusnya tidak perlu…ini indah sekali”

“Tentu saja aku harus…tapi aku takut itu tidak bisa membuat kamu lebih cantik cintaku… sini biarku ku pasangkan untukmu”

“Ohh papa!” Emma merasa ada semacam perasaan cinta untuknya saat dia berada di belakangnya. Dia harus lebih dulu mengendurkan jubah untuk membiarkan dia memasang kaitan di belakang, dan ketika dia berbalik ke arahnya, Jack tidak bisa menghindari tetapi matanya mengarah pada belahan dada Emma yang menyenangkan.

“Oh… apa rantainya kepanjangan?” ia berharap, menatap kalung yang melingkar diatas dada lezatnya.

“Tidak pa… ini menyenangkan” dia tersenyum, menangkap dia memandang ke sana lebih banyak dari yang seharusnya diperlukan.

“Oh terima kasih banyak…” Emma menciumnya dengan agak antusias dibanding yang perlu dilakukannya dan putus tiba-tiba dengan sebuah gairah dipermalukan. Kemudian Jack menangkap momen itu, menarik punggungnya seolah-olah meredakan kebingungannya dan menciumnya dengan perasaan jauh lebih dibandingkan perasaan seorang mertua.

“Selamat ulang tahun sayang” katanya, saat senyuman mereka berubah jadi lebih serius.

“Oh terimakasih papa” Emma menciumnya kembali, menyadari ini adalah titik yang tak bisa kembali lagi, dan kali ini membiarkan lidahnya ‘bermalas-malasan’ terhadapnya. Dia baru saja mempunyai waktu untuk merapatkan jubahnya kembali saat Paul menelponnya untuk ucapkan selamat malam dan sedikit investigasi. Paul ingin bicara pada papanya dan memintanya agar menyimpan cintanya untuk ibunya yang sudah meninggal. Mata Emma tertuju pada Jack saat dia menenteramkan hati putranya di telpon, mengetahui dia akan membiarkan pria ini melakukan apapun…

“Aku sangat suka ini pa…” Emma tersenyum ketika telpon dari Paul berakhir. Dia menggunakan alasan memperhatikan kalungnya untuk membuka jubahnya lagi, kali ini sedikit lebih lebar.

“Apa kamu pikir ini cocok untukku?”

“Mmm oh ya…” dia tersenyum, matanya menelusuri bagian atas gundukan lezatnya, dan untuk pertama kalinya membiarkan gairahnya tumbuh. Emma secara terbuka mempresentasikan payudaranya untuk kekasihnya, membiarkan dia menatapnya ketika dia membusungkan dadanya jauh lebih lama dibandingkan hanya sekedar untuk memandangi kalung itu. Dia mengangkat tangannya dan memegang mainan kalung itu, mengelus diantara dadanya, menatap tajam ke dalam matanya.

“Kamu terlihat luar biasa dengan memakainya” dia tersenyum.

Nafas Emma yang memburu adalah nyata ketika tangan kekasihnya telah menyentuhnya di sana, dan pandangannya yang memikat saat kekasihnya menyelami matanya memberi dia tiap-tiap dorongan. Mereka berdua tahu apa yang akan terjadi kemudian, sudah terlalu jauh untuk menghentikannya sekarang. Dia akan bercinta dengan papa mertuanya. Mereka berdua juga menyadari, bahwa tidak perlu terburu-buru kali ini, mereka harus lebih dulu membiarkan berjalan dengan sendirinya, dan walaupun kemudian itu akan menjadi resikonya nanti.

Emma bisa melihatnya sekarang kalau ‘pertunjukannya’ yang nakal telah memberi efek pada gairah kekasihnya. Gundukan yang terlihat nyata di dalam jubahnya menjadikan jantungnya berdebar kencang, dan kekasihnya menjadi bangga ketika melihatnya menatap itu, seperti halnya dia yang memandangi payudaranya.

“Kamu sudah cukup merayuku…kamu nakal!” Emma tersenyum pada kata-kata terakhirnya, memberi dia pelukan yang lain. Pelukan itu berubah menjadi sebuah ciuman, dan kali ini mereka berdua membiarkan perasaan mereka menunjukkannya, lidah mereka saling melilit dan memukul-mukul satu sama lain. Emma merasa tali jubahnya mengendur, dan Jack segera merasakan hal yang sama.

“Oh Jack…kita tidak boleh” dia menjauh dari kekasihnya sebentar, tidak mampu untuk hentikan dirinya dari pemandangan jubahnya yang terbuka cukup lebar untuk melihat ujung penisnya yang tak terukur membesar diantara pahanya yang kuat.

“Ohh Emma … aku tahu…. tapi kita harus” dia menarik nafas panjang, memandang pada perutnya untuk melihat kewanitaannya yang sempurna, telah merekah dan mengeluarkan cairannya. Detak jantung Emma bahkan jadi lebih cepat saat dia lihat tonjolannya menghentak lebih tinggi ke udara saat kekasihnya memandang bagian paling intimnya.

“Oh Jack sayang…” desahnya pelan saat kekasihnya memeluknya, jubahnya tersingkap dan dia terpana akan tonjolannya yang sangat besar di bagian bawahnya. Itu sepertinya memuat dua prem ranum yang membengkak dengan benihnya yang berlimpah. Dia tidak bisa hentikan dirinya sekarang… dia membayangkan dirinya berenang di dalamnya.

“Emma cintaku…betapa lamanya aku menginginkanmu…” katanya saat ia menggapai paha Emma.

“Oh Jack… seandainya aku tahu… setiap kali Paul bercinta denganku aku membayangkan itu adalah kamu yang di dalamku… papa termanis… apakah aku terlalu jahat untuk katakan hal seperti itu?”

“Tidak kekasihku…” jawabnya, mencium lehernya dan turun pada dadanya, dan membuka jubahnya lebih lebar lagi untuk agar tangannya dapat memegang payudaranya. Mereka berdua ingin memanfaatkan momen itu…

“Apakah kamu ingin aku di sana sekarang?”

“Oh Jack… ya… papa” erangnya kemudian mengangkat jubahnya dan tangannya meraih penisnya.

“Aku sangat menginginkannya”

“Oh Emma…. kekasihku, apakah ini yang kamu ingin?” dia mengerang, memegang jarinya di sekitar batang berdenyutnya yang sangat besar.

“Oh ya papa… penismu… aku ingin penis papa di dalamku”

“Sayangku yang manis…apa kamu menginginkannya di sini?” kekasihnya melenguh, menjalankan jemarinya yang pintar sepanjang celah itu, menggodanya, membuat matanya memejam dengan nikmat. Emma hampir merintih ketika dia menatap mata kekasihnya.

“Mmmm penis papa di dalam vaginaku”

“Ahhh anak manisku tercinta” Emma menjilat jarinya dan menggosoknya secara lembut di atas ujung kejantanannya yang terbakar, membuat kekasihnya merasa ngeri dengan kegembiraan.

“Kamu ingin jadi nakal kan pa…kamu ingin orgasme di dalamku” Emma menggoda, meninggalkan pembesaran tonjolan yang bagus, dan mengalihkan perhatiannya kepada buah zakarnya yang membengkak.

Sekarang adalah giliran kekasihnya untuk menutup matanya dengan gairah yang mengagumkan.

“Kamu ingin meletakkan spermamu di dalam istri putramu… kamu ingin melakukan itu di dalam vagina gadis kecilmu” Dia hampir menembakkannya bahkan waktu Emma menggodanya, tetapi entah bagaimana menahan ombak klimaksnya, dan mengembalikannya pada Emma, keduanya sekarang saling memegang pinggang satu sama lainnya.

“Dan kamu ingin benih papa di dalam kandunganmu kan… dalam kandunganmu yang dahaga… membuat seorang bayi kecil di dalam kandungan suburmu” dia tidak bisa semakin dekat kepada tanda untuknya… Emma telah memimpikan kekasihnya memberinya seorang anak, Emma gemetar dan menggigit bibirnya saat jari tangan kekasihnya diselipkan di dalam saluran basahnya.

“Papa… oh ya… ya… tolong… aku sangat menginginkannya…” Paul belum pernah punya keinginan membicarakan tentang hal itu… Emma tidak benar-benar mengetahui apakah dia ingin seorang anak, sekalipun begitu pemikiran itu menjadi sebuah gairah yang luar biasa. Bibirnya menemukannya lagi, dan tenggelam dalam gairahnya, lidah mereka melilit lagi dengan bebas tanpa kendali yang sedemikian manis. Emma membiarkan jubahnya terbuka seluruhnya sekarang, menekankan payudaranya secara lembut melawan dada berototnya, perasaan geli membuat cairannya lebih berlimpah. Jantungnya terisi dengan kenikmatan dan antisipasi, pada pikiran bahwa dia menginginkan dirinya…bahwa seluruh gairah Emma akan terpenuhi dengan segera.

“Oh gadis manisku yang jahat ” lenguhnya saat bibir Emma menggodanya.

“Aku akan pergi sebentar” dia tersenyum dengan mengundang saat dia menoleh ke belakang dari pintu.

“Jangan pergi” Emma melangkah ke lantai atas, jubahnya berkibar di sekitarnya lagi saat dia memandangnya. Emma tidak perlu merasa cemas, suaminya sedang berada jauh di sana dengan segala egoisme kesibukannya, dan Emma mengenal bagaimana kebiasaanya. Jantung Emma dilanda kegembiraan lebih ketika dia melepaskan jubahnya dan berjalan menuju dia… pada papa mertuanya… telanjang dan siap untuk menyerahkan dirinya seluruhnya kepada kekasihnya.

Ketika dia mendengar langkah kaki Emma pada tangga, dia lalu keluar dari jubahnya dan sekarang berlutut di atas permadani di depan perapian, menghadapinya ketika dia masuk, ereksinya semakin besar dalam posisi demikian. Emma berlutut di depannya, tangannya memegang obyek hasratnya, yang berdenyut sekilas, lembut dan demikian panas dalam sentuhannya. Matanya terpejam dalam kenikmatan murni saat Emma berlutut dan mencium ujung merah delima itu, matanya terbuka meresponnya, dan mengirim beberapa tetesan cairan lezat kepada lidah penggemarnya. Kekasihnya mengelus payudaranya dan menggoda puting susunya yang gemuk itu.

“Aku sudah siap pa… malam ini seutuhnya milikmu”

“Emma sayang, kamu indah sekali…” kekasihnya memujinya dan dia tersenyum dengan bangga.

“Oh Papa… kumohon. Aku sangat menginginkannya … aku ingin benihmu di dalamku”

“Sepanjang malam cintaku…” kekasihnya tersenyum, rebah bertumpu pada sikunya lalu menyelipkan tangannya diantara paha Emma.

“Kita berbagi tiap momen” Emma rebahan pada punggungnya, melebarkan lututnya membiarkan jari kekasihnya berada di dalam rendaman vulvanya.

“Ohh mmm papa sayang… ” Emma melenguh saat jari kekasihnya merangsang tunas kesenangannya tanpa ampun.

“Mmm betapa aku sangat memuja perempuan kecilku… ” kekasihnya menggodanya ketika wajahnya menggeliat di puncak kesenangan.

“Ohh papa… rasakan bagaimana basahnya aku untukmu”

“Apa anakku yang manis sudah basah untuk penis papa? Mmmm penis papa di dalam vagina panas gadis kecilnya…. penis besar papa di dalam vagina gadisnya yang panas, vagina basah…” kata-katanya diiringi dengan tindakan saat dia bergerak diantara pahanya, tongkatnya berdenyut dengan bernafsu saat dia mempersiapkan lututnya.

“Setubuhi aku pa… masukkan penismu ke dalamku”

“Sayang… Emma yang nakal… buka vaginamu untuk penis papa” tangan mereka memandu, kejantanannya membelah masuk kewanitaannya.

“Papa… sepenuhnya untukku kan?”

“Ya putriku manis… sperma yang penuh untuk kandunganmu… apa kamu akan membuat papa melakukan itu di dalam tubuhmu?”

“Ahh ya papa… aku akan membuatmu memberikan semuanya ke dalam tubuhku… ahh ahh ahh” Emma mulai menggerakkan pinggangnya…takkan menghentikan dirinya saat dia membayangkan itu. Mata mereka saling bertemu dalam sebuah kesenangan yang sempurna, mereka bergerak dengan satu tujuan, yang ditetapkan oleh kata-katanya.

“Papa akan menebarkan semuanya ke dalam kandunganmu yang subur… sperma papa akan membuat bayi di dalam kandunganmu Emma sayang” tangan kekasihnya mengayun pantatnya sekarang saat dia mulai menusuk lebih dalam, matanya menatap kekasihnya ketika dia menarik pantatnya yang berotot, mendorong lebih lanjut ke dalam tubuhnya… memberinya hadiah yang sangat berharga.

Penis besarnya menekan dalam dan panjang, buah zakarnya yang berat menampar pantatnya saat dia mendorong ke dalam kandungannya. Dia tidak bisa menolong, hanya melihatnya, setiap gerakan mereka yang mendatangkan nikmat… membayangkan waktunya akan segera datang… memancar dari kekasihnya… berenang di dalam dirinya… membuatnya mengandung anaknya. Dia menggelinjang saat kekasihnya menyusu pada puting susunya yang diremas keras, tangan besarnya meremas payudaranya bersama-sama saat dia mengocoknya berulang-ulang.

Dia berteriak, menaikkan lututnya setinggi yang dia bisa untuk memaksanya lebih dalam ke bagian terdalam vaginanya. Kekasihnya menghentak lebih cepat, meremas pantatnya untuk membuat sebuah lingkaran yang ketat pada vaginanya… momen yang sempurna mendekat dengan cepat saat dia menatap mata kekasihnya yang juga dipeluk selimut puncak surgawi. Emma memperlambat gerakan kekasihnya, menenangkannya ketika waktunya datang…

“Aku ingin menahanmu jauh di dalam tubuhku saat kamu keluar…saat kamu memompa benihmu ke dalam tubuhku”

“Oh sayang…ya manisku…tahan aku saat kukeluarkan spermaku ke dalam kandunganmu”

Dia merasa itu membesar di dalam cengkramannya, urat gemuk penisnya siap untuk berejakulasi, dan kemudian menghentak dengan liar, dan dengan masing-masing semburan yang dia rasa pancarannya yang kuat menghantam dinding kewanitaannya, membasahi hamparan ladangnya yang haus kekeringan. Bibir mereka bertemu dalam lilitan sempurna, tangisan Emma membanjiri kekasihnya kala kekasihnya menyembur dengan deras ke dalamnya. Punggung Emma melengkung, mencengkeram penisnya sangat erat saat ombak kesenangan menggulungnya. Dia ingin menahannya di sana untuk selamanya…

Jantung mereka berdegup sangat keras ketika mereka berbaring bersama, terengah-engah, sampai mereka bisa berbicara.

“Oh Tuhan Emma…aku sangat menginginkanmu…”

Dan untuk beberapa hari kedepan, tak ada sepatah katapun yang sanggup melukiskan momen itu…


read more

 
Copyright © 2009 Cerita Seks Dewasa | Cerita Hot | Cerita Panas | Cerita Dewasa | Foto Hot
Designed by Dody Farial and XML Coded by Blog Zone